wROCKshop di Kota Bandung; Membangun Kreatifitas Tanpa Batas!

image

Bandung, UrbannewsID.com | Percaya atau tidak, perkembangan musik di Indonesia memang luarbiasa. Pertumbuhan para peminat baru dengan berbagai karakter, menjadi indikasi betapa musik sudah demikian mendarah-daging untuk penikmatnya. Hebatnya, meski periuk yang tersedia terbatas dan ketat, ternyata tidak membuat gentar anak-anak muda yang punya mimpi lewat musik. Hampir setiap hari bermunculan wajah baru, baik sendiri maupun bergrup, yang unik. Tidak semua bagus secara materi dan skill, tapi paling tidak membuka mata kita, ranah musik ini memang belum habis untuk dikupas.

Setiap musisi yang lahir, pastinya mencoba untuk menawarkan karya musik kepada khalayak yang mereka anggap potensial. Lucu dan aneh, kalau bermusik tapi menutup diri karyanya untuk diapresiasi. Sebagus apapun karya itu, ketika orang tidak pernah tahu, menjadi sia-sia saja perjuangan membuatnya. Kecuali memang untuk koleksi pribadi doang. Apalagi di era milenial, percepatan teknologi yang terus berevolusi dari waktu ke waktu memberikan kemudah bagi para musisi, menjadi sangat penting dan mutlak untuk dipahami agar bisa berlari cepat. Kalau tidak, jadinya seperti katak dalam tempurung.

Kondisi inilah menjadi perhatian Indonesia Musik Forum (IMF) bersama Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), menggelar program edukasi bertajuk “wROCKshop” sebagai asupan nutrisi kepada generasi muda seputar dunia musik. Rangkaian program yang sudah digelar di beberapa daerah seperti di Jakarta, Palu, Malang, Bali, Yogyakarta dan Makassar. Buddy ACe, Ketua Presidium Indonesia Musik Forum (IMF), sekaligus Ketua Tim Pengarah wROCKshop, mengatakan, acara edukasi musikal dalam bentuk workshop kreatif ini, menyajikan 2 agenda penting yakni pengetahuan teknis musikal dan pengetahuan umum yang berkaitan dengan industri musik di era digital bagi para generasi millenials.

Segmentasi utama dunia hiburan diranah digital inilah, akhirnya menjadi fokus gelaran wROCKshop ke-7 di Kota Bandung. Program edukasi wROCKshop selama 2 hari, mulai tanggal 8-9 Desember 2017 di dua lokasi yakni di Gudang Kereta Api Indonesia (KAI) dan di Gedung Creative Hub, Bandung, Jawa Barat. Menyedot perhatian dan antusias warga Bandung, khususnya anak muda yang haus ilmu. Tidak hanya sampai disitu, program ini pun semakin bertambah semarak dan menarik karena wROCKshop menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam acara “Bekraf Festival 2017″ yang dihelat ditempat yang sama dengan intensitas pengunjung luar biasa.

wROCKshop di Kota Bandung yang mengusung tema “Sistem Manajemen Musik Indonesia Untuk Milenial, Produksi dan Promosi Musik Indonesia di era Digital” ini, secara resmi dibuka oleh Toar Mangaribi, Kepala Subdit Edukasi Sub Sektor Ekonomi Kreatif, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia. Toar mengatakan, perhelatan wROCKshop yang digagas Indonesia Musik Forum (IMF) dan Bekraf di Bandung, karena kreatifitas kota yang satu ini sudah dikenal dan menjadi energi masyarakat kreatif yang ada sejak dulu. “Untuk itu, Bekraf ingin melindungi karya kreatif dan membangkitkan semangat, agar musik Indonesia kembali eksis hingga bisa ke luar negeri,” ujar Toar, dalam kata sambutannya, Jum’at pagi (8/12) pagi.

wROCKshop di Kota Bandung dikuti sekitar 80 peserta anak­-anak muda penyuka dan penggiat musik ini. Hari Pertama wROCKshop, Jumat (8/12), yang terbagi dalam dua sesi dan di dua tempat terpisah mulai dari Jam 10.00 hingga 22.00 WIB. Nara sumber yang berbagi pengalaman profesional mereka dalam industri musik. Aria Baron (sound gitar dan aransemen lagu), Sandy Pas Band (teknik drum dan optimalisasi sound), dan Yoyo Bassman (teknik bass dan kepercayaan diri). Di sesi siang cukup menarik, tercipta sebuah lagu dadakan yang melodinya dibuat narasumber dan diliriknya oleh para peserta. Malamnya, Indra Qadarsih sharing soal produksi lagu, mixing dan mastering, dan ditutup Dr. Amin Abdullah, Pejabat Bekraf sekaligus Etnomusikologi dan Budayawan, bicara soal fakta menarik dan transformasi sejarah dibalik musik folk.

Hari Kedua wROCKshop di Kota Bandung, Sabtu (9/12), nara sumber berbagi cerita pengalaman profesionalnya dalam industri musik. Kali ini, Erwin Coklat dan John Paul Ivan, tentang teknik dan effek gitar dalam karya lagu yang dibuatnya. Sementara, Yuke Dewa 19 lebih kepada sound bass serta dawainya, sedangkan Ferry HK bicara seputar teknik bermain drumm dalam ragam genre. Malamnya, Aria Baron berbagi pengetahuan tentang Hak Cipta, Hak Paten, Hak Publishing dari karya musik di era digital. Menurut Baron, musisi jaman sekarang mutlak mengetahui apa itu performing & mechanical rights, karena ini berkaitan hak atas karya cipta yang dilindungi oleh undang-undang. Berikutnya, narasumber terakhir Budi Dalton, seniman musik, artis film, presiden komunitas bikers Brotherhood, sekaligus Ketua IMF Bandung, bicara membangun jaringan musisi tanpa sekat budaya di era digital untuk para millenials.

wROCKshop di Kota Bandung usai sudah digelar dengan ditandai penyerahan piagam oleh Buddy ACe, Ketua Presidium Indonesia Musik Forum (IMF), sekaligus Ketua Tim Pengarah wROCKshop, kepada seluruh peserta, para narasumber, dan juga wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Hiburan (Forwan) yang hadir meliput. “Rangkaian wROCKshop ke-7 di Kota Bandung, bukanlah program terakhir, justru ini adalah langkah awal pergerakan Indonesia Musik Forum (IMF), sebagai medium atau ruang satu-satunya bagi pemerhati, penggiat, dan pelaku kreatif, khususnya di dunia musik yang ada di seluruh Indonesia, bersatu padu melahirkan para musisi generasi baru yang mumpuni, serta membangkitkan kembali kejayaan industrinya,” ujar Budi Ace.

Menyitir pendapatnya Herbert Marcuse, seorang pemikir politik kontemporer asal Frankfurt yang terkenal dengan ‘teori kritis’-nya. “Musik memang tidak dapat mengubah dunia, tetapi musik mampu menyumbangkan satu perubahan kesadaran manusia. Dan pada gilirannya, manusia inilah yang mampu mengubah dunia”. Dua hari wROCKshop di Kota Bandung, menjadi bagian dari pergerakan IMF dan Bekraf dalam membangun sebuah ekosistem baru industri kreatif di Indonesia. Tidak lagi menunggu, tapi IMF hadir langsung kedaerah-daerah mencari bibit unggul atau ratusan bahkan jutaan mutiara yang belum terasah. Senada, seperti yang disampaikan Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif, jika Korea butuh 15 tahun membawa K-Pop mendunia. Indonesia dengan jumlah penduduk yang banyak, serta kaya ragam seni budaya, seharusnya industri kreatif di Indonesia lebih cepat.

wROCKshop yang konon masih menyisakan gelarannya dibebera kota akhir tahun ini. Budi Ace mengatakan, Indonesia Musik Forum (IMF) yang sudah ada perwakilan di beberapa kota, tengah mempersiapkan rancangan program terbaru lanjutannya yakni wROCKshow yang akan dihelat pada tahun 2018 nanti. wROCKshow ini nantinya menjadi panggung atau etalase bagi para kreator musik (musisi), menunjukan kemampuannya dan keterampilannya lewat karya musik. “Kalau wROCKshop lebih kepada tataran edukasi, wROCKshow sudah masuk kepada pembuktiannya. Program ini semacam marketplace, dimana para kreator yang bergerak di industri musik berkumpul dan berdialog aspek bisnisnya,” pungkas Budi Ace.|Edo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*