Voice of Baceprot (VoB) Gegerkan Panggung MIIL Vol.2

IMG_20180508_155533-800x649-600x487

UrbannewsID Musik | Suasana Eastern Promise, Pub & Curry House, yang berada dikawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin (7/5/2918) malam, dijejali para penikmat musik untuk menjadi bagian sekaligus saksi dari hajatan musikal yang digelar Amity Asia Agency X Berita Angkasa, bertajuk Monday I’m In Lust (MIIL) Vol.2. Para tetamu yang campur baur, termasuk juga beberapa musisi yang hadir, nampak tumpek blek menunggu para penampil beda rasa dan beda generasi.

Debut MIIL vol.1 yang sukses membawa keceriaan para penikmat musik lokal, lewat suguhan ciamik Gemalara, Jason Ranti, dan Blackteeth, bulan lalu. Para penampil kali ini pun tidak kalah keren, yakni; Soft Animal, proyek musik drummer Elephant Kind, Bayu, yang baru-baru ini merilis EP perdana, Nanook. Kemudian unit rock & roll lawas era ’90-an asal Jakarta bentukan Bongky, mantan pemain bas Slank yang kini di BIP, bersama Njet sang vokalis. Dan, paling ditunggu penampilan tiga remaja berhijab ‘Voice of Baceprot (VoB)’.

Hijaber metal dari desa di pelosok Garut, Jawa Barat, beranggotakan Firda Kurnia (vokal dan gitar), Widi Rahmawati (bass), dan Euis Siti Aisyah (drum), yang namanya kian melejit. Setelah viral di media sosial lewat unggahan bermusik mereka, dan sejumlah media asing mengupas tuntas gaya pakaian personel VoB yang kompak berhijab yang mampu memainkan musik trash metal dengan tempo nada cepat. Lewat beberapa komposisi yang mereka mainkan, raungan gitar distorsi Firda, cabikan bass Widi, dan dentuman kick drum Euis, menghentakan andrenalin penonton untuk bergoyang.

Aksi panggung tiga hijaber metal yang menarik perhatian para bule di Eastern Promise. Selain memberikan energi di perhelatan Monday I’m In Lust (MIIL) Vol.2, kehadiran ‘Voice of Baceprot (VoB)’ sekaligus juga menjadi ajang perkenalan single terbaru mereka “School Revolution”, yang berisikan ekspresi keprihatinan mereka atas banyaknya lahan yang tergerus. Komposisi dengan narasi lirik kritis, dibungkus dengan musik keras ini dipoles Stephan Santoso, sebagai music director dan juga bertindak menjadi produser untuk tiga remaja berusia muda ini.

Sama dengan The Enemy of Earth is You, single School Revolution adalah suara kritis mereka tentang orang-orang yang mencitrakan diri baik tapi sebenarnya adalah musuh dan penghancur bumi. Orang yang mencitrakan pelindung alam tapi merusak alam. “Yu, kita suarakan stop penghancuran alam. Saatnya, kita menghimbau mereka untuk jangan menjual ladang atau sawah, agar desa tetap terjaga dan lestari. Mari kita teriakan bersama-sama dengan lantang dan sekeras-kerasnya ‘jangan di jual’,” tukas Firda Kurnia, sang vokalis dan juga gitaris, yang diikuti semua penonton yang hadir.|Edo (Foto Dok. AmityAsia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*