Tumbal-The Ritual Siap Meneror Penonton di Bioskop!

IMG_20180613_000353-800x593-600x445

UrbannewsID Film | Film berbau horor saat ini sedang naik daun, dan bahkan sudah menghiasi layar-layar bioskop di Indonesia dengan ragam cerita fiksi yang melatarbelakanginya. Film horor dengan subgenrenya, antara lain action horor, slasher, gothic, horor science fiction, psychological, sampai komedi horor, memang sangat digemari di kalangan para pecinta film.

Genre yang satu ini cukup populer karena mampu menghadirkan ketakutan dan ketegangan yang memompa adrenalin penonton. Maka tidak heran, bukan saja film horor import dari Hollywood merajai bioskop di Indonesia. Produksi para sineas dalam negeri pun mulai unjuk gigi meneror penonton. Sebut saja, Danur, Jailangkung, The Doll, The Promise, hingga Pengabdi Setan.

Kali ini, PT. Mataram Surya Kinema, atau MK Pictures, sebuah Production House yang baru berdiri di awal tahun 2018 ini, menyuguhkan film horor perdananya berjudul ‘ Tumbal-The Ritual’ yang akan rilis di bioskop seluruh Indonesia mulai 19 Juli 2018. Walaupun baru, tapi para pelakunya berwajah lama, seperti sang produser Michel Khatwani yang kerap wara-wiri memproduseri beberapa film dan
serial sinetron sejak 2002.

Film Tumbal-The Ritual yang memadukan drama, adventure, dan horor ini, berkisah tentang 5 orang anak muda sahabatan yaitu Nira (Mawar De Jongh), Raka (Rayn Wijaya), Leo (Karel Susanteo), Maya (Shenina Cinammon) dan Sisi (Annette Edoarda), mendapatkan tugas akhir dari sekolah perfilman, memutuskan untuk mendokumentasikan sebuah Pabrik Tua di sekitar Jawa Tengah, yang terkenal dengan fenomena spiritualnya.

Konon diceritakan, si pemilik pabrik bernama Raden Suryo yang diperankan August Melasz ini, dibakar hidup hidup oleh warga karena keluarganya dijadikan tumbal oleh Suryo. Dicerita lainnya, Nira memiliki seorang adik, Alya (Makayla Rose) yang autis dan tidak dapat dipisahkan. Alya nekat ikut bersama petualangan kakaknya. Mulai dari keberangkatan saja mereka sudah menemukan banyak hal ganjil.

Mobil mereka pecah ban, bertemu sosok misterius yang sempat difoto tapi saat dilihat di kamera, orang tersebut tidak ada. Kemudian mobilnya mogok, sehingga merekam harus berjalan kaki menuju lokasi. Setibanya di pabrik, keangkeran menyelimuti mereka. Begitu malam tiba, semuanya mendapatkan terror yang sangat menakutkan. Tapi mereka tidak bisa pergi dari sana. Selain tidak ada kendaraan, mereka ada di sebuah tempat terpencil yang sangat jauh dari masyarakat lain. Terpaksa mereka menginap.

Di saat itulah, Alya hilang. Hal ini membuat Nira sangat shock. Saat pingsan Nira seakan dibawa ke sebuah tempat dan bertemu dengan hantu yang sangat menyeramkan. Sebangunnya, dia menjadi tahu akan kejadian sebenarnya di Pabrik itu. Ternyata dia adalah anak Nurmala, hantu yang menikah dengan Raden Suryo, dijadikan tumbal ke 39 oleh suami bejadnya in.

Cilaknya, Nira pun hendaknya menjadi tumbal yang ke 40, untuk imbalan keabadian dan harta tak terhingga dari iblis sembahan Suryo. Tapi Nira sempat disembunyikan oleh Nurmala sebelum dia ditangkap oleh Suryo. Tapi, Nita dan Raka mencari cara untuk mengalahkan Suryo. Atas arahan Alya, Nira menemukan rumah dan ruang altar pemujaan dan korban Suryo. Dia berusaha menghancurkan kutukan Tumbal ini, tapi malah membangkitkan jasad Suryo yang sudah hancur terbakar.

Apakah Nira bisa diselamatkan para sahabatnya? Lantas bagaimana tugas akhir sekolah mereka?. “Untuk menemukan jawabannya, sebaiknya saksikan saja nanti dibioskop. Kami sangat berharap film ini dapat diterima oleh masyarakat khususnya target audience kami yang berusia 13-25 tahun. lni adalah horror remaja, dengan editing horror yang berbeda, style dan rasa yang berbeda,” pungkas Michel Khatwani, saat dijumpai di Hard Rock Café, Jakarta, Selasa (11/6) sore.

Guna memberi roh pada film Tumbal-The Ritual, Michel Khatwani, mencoba mengangkat lagu anak-anak era 70-an berjudul :Aku Sedih’ di populerkan Yoan Tanamal, untuk soundtracknya. Lagu yang di aransemen ulang oleh 3 (tiga) composers yaitu Tengku Shafick, Bemby Noor dan Mario Kacang. Komposisinya dirubah dari mayor ke minor, dengan beat rada kalem plus vokal wanita yang sedikit mendayu, sehingga memyatu dalam cerita sekaligus memberi efek magis.|Edo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*