The Rise of Java: Pergelaran Karya Seni Musik & Busana di Jawa

image

Foto (Ki-Ka): Wizzy, Andien, Dwiki Dharmawan, Tatit Primadi, dan Afif Syakur

Jakarta, UrbannewsID.com | Seni budaya merupakan penjelmaan rasa seni yang dapat dirasakan oleh orang banyak dalam rentang perjalanan sejarah peradaban manusia. Seni dapat berupa seni tari, seni musik, seni teater, maupun seni Rupa dimana busana termasuk didalamnya. Seni merupakan suatu karya yang dibuat atau diciptakan dengan kecakapan yang luar biasa sehingga merupakan sesuatu yang elok atau indah.

Kebutuhan akan seni budaya merupakan kebutuhan manusia yang lebih tinggi diantara urutan kebutuhan lainnya. Seni budaya berkaitan langsung dengan kesejahteraan, keindahan, kebijaksanaan, ketentraman, dan pada puncaknya merupakan proses evolusi untuk menemukan bentuk sesuai dengan perkembangan jamannya, diantaranya yang berkaitan dengan judul diatas yaitu musik dan busana.

Musik dan ragam busana Indonesia, tidak lepas dari perjalanan sejarah yang memiliki kisah dan cerita dari masa ke masa. Guna memaknai yang tersirat, sebuah program acara bertajuk ‘The Rise of Java’ yang digagas Gatra Media Group dan Mediatama, menyajikan pertunjukan perjalanan sejarah kekayaan tanah jawa melalui kolaborasi musik dan fashion, pada 5 November 2017 di Open Air Theater Ramayana Ballet, Prambanan, Yogyakarta.

The Rise of Java yang mêmadukan music dan fashion performance yang sarat akan makna historical sebagai penguat identitas budaya Jawa di era globalisasi ini. Pergelarannya akan dibagi dalam 4 babak, dan dibuka terlebih dahulu dengan sendratari Ramayana. Pada setiap babak akan menampilkan rancangan musik yang mewakili masing-masing era perkembangan peradabannya, sehingga penonton akan ikut larut merasakan perjalanan sejarah budaya Indonesia.

Babak pertama; diawali dengan cerita tentang sejarah kain lurik yang secara tradisional menjadi pakaian khas warga pedesaan dikalangan suku bangsa Jawa. Kemudian, dilanjutkan dengan babak yang menceritakan fase kehidupan manusia yang dilambangkan melalui motif batik. Pada babak berikutnya, akan menampilkan evolusi dari jaman kebaya dan motif batik yang dikenakan oleh Peranakan Belanda dan Cina pada masa penjajahan. Pertunjukan akan ditutup dengan koleksi tradisional kebaya yang terinpirasi dari kemegahan alam budaya Indonesia.

Pergelaran ini diperkuat berbagai hasil rancangan busana dari 4 perancang busana nasional ternama, yakni Afif Syakur (Yogyakarta), Didiet Maulana (Jakarta), Lenny Agustin (Jakarta), dan Philip Iswardono (Yogyakarta). Nantinya, hasil rancangan mereka akan diperagakan oleh 48 model yang berasal dari Jakarta, Yogyakarta, Solo, Semarang dan Surabaya yang diiringi dengan rangkaian cerita perjalanan peradaban nusantara khususnya di Jawa dengan tarian dan komposisi musik tradisional dan kontemporer oleh Dwiki Dharmawan.

Dwiki yang didampuk sebagai music director dalam pergelaran ini, bersama ‘World Peace Orchestra’ yang dibentuknya akan mengiringi penampilan penyanyi beda generasi, yakni Sruti Respati, Andien, Rafly Kande, dan Wizzy. Selain itu, Dwiki Dharmawan bersama orkestranya nanti akan memboyong sebuah grup gamelan dari jawa, dan alat musik gesek semacam cello benama ‘Tarawangsa’. Menurut Dwiki, alat yang berasal dari Jawa Barat ini keberadaannya cukup tua berdasarkan naskah kuno Sewaka Darma dari awal abad ke-18. Termasuk juga, Lalove sebuah alat tiup semacam suling dari Sulawesi Tengah, Sasando dari NTT dan Gong.

The Rise of Java: pegelaran sejarah peradaban musik dan busana di Jawa pada 5 November nanti, yang konon katanya tepat di malam bulan purnama yang tepat akan menerangi Candi Prambanan, akan semakin memberi sentuhan imaji luar biasa nantinya. Untuk bisa menikmati sekaligus menjadi saksi rekaman perjalanan pertunjukan, pihak penyelenggara membandrol harga tiket mulai dari Rp 750.000 (platinum), Rp 500.000 (gold), Rp 400.000 (silver), dan Rp 250.000 (bronze). Dan semua tiket bisa diperoleh secara online melalui theriseofjava.mahanalive.com, atau rajakarcis.com.

Menurut Tatit Primadi, perwakilan Gatra Media Group sekaligus penyelenggara acara menjanjikan The Rise Of Java, meuturkan, acara ini digelar untuk mendukung program pengembangan desa sekitar lokasi Pariwisata Candi Prambanan, yang akan dilaksanakan melalui Program Mandiri Lestari. “Program ini memang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar sesuai potensi desa yang ada, contohnya; rumah-rumah warga disiapkan menjadi home stay bagi para wisatawan baik dalam negeri maupun manca negara,” pungkas Tatit, saat dijumpai di Qubicle Senopati, Jakarta, Kamis (26/10) sore.|Edo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*