Teater Bunga Penutup Abad Dipersembahkan Untuk Mengenang Pramoedya Ananta Toer

image

Jakarta, UrbannewsID. | Titimangsa Foundation bekerja sama dengan Yayasan Titian Penerus Bangsa dan Bakti Budaya Djarum Foundation mempersembahkan Bunga Penutup Abad, sebuah pementasan teater yang diadaptasi dari novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa yang termasuk dalam seri novel Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Pementasan teater Bunga Penutup Abad inimemperlihatkan bukti komitmen, kerja keras dan kecintaan seluruh tim pendukung untuk memberi ruh pada karya novel dari sastrawan kebanggaan Indonesia yang digelar selama tiga hari, tanggal 25, 26 dan 27 Agustus 2016 di Gedung Kesenian Jakarta.

Pementasan yang merupakan persembahan dalam mengenang 10 tahun meninggalnya Pramoedya ini, menampilkan aktor terbaik Indonesia yaitu Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh, Reza Rahadian sebagai Minke, Lukman Sardi sebagai Jean Marais dan Chelsea Islan sebagai Annelies serta memperkenalkan pemain cilik berbakat, Sabia Arifin sebagai May Marais. Pementasan ini disutradari Wawan Sofwan yang sebelumnya telah menyutradari berbagai pementasan teater seperti Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh, Monolog Inggit, Musikal Sangkuriang, Rumah Boneka dan Subversif.

“Ini merupakan suatu kebahagiaan bagi saya yang boleh mengapresiasi karya penulis besar Indonesia ke panggung teater dan salah satu cara untuk mengenalkan generasi muda akan karya-karya sastra Indonesia. Semoga pementasan ini memberikan kontribusi positif dalam melestarikan dan meningkatkan rasa cinta terhadap warisan sastra budaya Indonesia serta lebih mempopulerkan seni teater sehingga seni pertunjukan di Indonesia dapat terus berkembang,” ujar Happy Salma yang juga berperan sebagai produser.

image

Happy Salma yang berinisiatif mengajak aktor dan aktris yang sangat popular dan super sibuk untuk terlibatpun sangat kagum dengan komitmen, dedikasi dan kerja keras dari pemain utama Reza Rahadian, LukmanSardi dan Chelsea Islan untuk bersama-sama berlatih serius agar tampil maksimal dan tidak mengecewakan para penonton. “Saya bangga dapat berkolaborasi bersama seluruh tim yang terlibat termasuk rekan aktor dan aktris muda berbakat. Ini merupakan kolaborasi dan sinergi tim yang sangat solid ditambah kecintaan yang sama pada karya sastra Indonesia, sehingga kami pun semangat untuk menterjemahkan dan memberi warna pada karya sastra maestro Indonesia ke panggung teater.”

“Karya sastra menggambarkan kehidupan serta mampu menjadi sumber untuk menggali identitas dan sejarah peradapan suatu bangsa. Di tengah arus informasi global sekarang ini, minat membaca karya sastra menjadi semakin berkurang, padahal karya sastra mengandung berbagai pesan moral serta ajaran budi pekerti yang luhur. Oleh karena itu, pementasan teater Bunga Penutup Abad ini membuktikan bahwa karya sastra Indonesia tetap aktual dan dapat diangkat dengan kemasan kekinian sehingga lebih mudah diapresiasi oleh masyarakat terutama generasi muda. Pertunjukan ini juga merupakan satu langkah pencapaian yang dapat meyakinkan banyak pihak bahwa penyelenggaraan seni pertunjukan lokal bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

imageBunga Penutup Abad ini berkisah mengenai kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh yang khawatir mengenai keberadaan Annelies, mengutus seorang pegawainya untuk menemani kemana pun Annelies pergi, bernama Robert Jan Dapperste atau Panji Darman. Kehidupan Annelies sejak berangkat dari pelabuhan Surabaya dikabarkan oleh Panji Darman melalui surat-suratnya yang dikirimkan pada Minke dan Nyai Ontosoroh. Surat-surat itu bercap pos dari berbagai kota tempat singgahnya kapal yang ditumpangi Annelies dan Panji Darman. Minke selalu membacakan surat-surat itu pada Nyai Ontosoroh. Surat demi surat membuka sebuah pintu nostalgia antara mereka bertiga, seperti ketika pertama kali Minke berkenalan dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh, bagaimana Nyai Ontosoroh digugat oleh anak tirinya sampai akhirnya Annelies harus dibawa pergi ke Belanda berdasarkan keputusan pengadilan putih Hindia Belanda.

Cerita berakhir beberapa saat ketika Minke mendapatkan kabar bahwa Annelies meninggal di Belanda. Minke yang dilanda kesedihan kemudian meminta izin pada Nyai Ontosoroh untuk pergi ke Batavia melanjutkan sekolah menjadi dokter. Ke Batavia, Minke membawa serta lukisan potret Annelies yang dilukis oleh sahabatnya Jean Marais. Minke memberi nama lukisan itu, Bunga Penutup Abad.

“Mengangkat novel karya sastrawan besar Indonesia ke atas panggung memiliki tantangan tersendiri dan dengan berbagai pertimbangan akhirnya dicoba untuk mengadaptasi Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsasehingga menjadi satu naskah yang utuh. Saya juga mengapresiasi para pemain yang berkomitmen untuk latihan intensif sehingga bisa menampilkan kemampuan maksimal mereka di atas panggung,” ujar Wawan Sofwan, sutradara pementasan Bunga Penutup Abad.

Pementasan ini juga didukung oleh orang-orang yang berdedikasi di bidangnya yaitu Ayu Dyah Pasha, Happy Salma, Melyana Tjahyadikarta dan Musa Widyatmodjo sebagai Produser, Iskandar Loedin (pimpinan Artistik), Allan Sebastian (penata panggung), Deden Jalaludin Bulqini (penata multimedia), Ricky Lionardi (penata musik), Deden Siswanto (penata kostum), Ritchie Ned Hansel (desainer grafis) dan dr. Tompi (fotografer).

“Pramoedya Ananta Toer merupakan sastrawan besar Indonesia yang berjuang untuk terus menghidupkan dan mengangkat dunia sastra Indonesia ke tingkat yang lebih baik. Kami bangga dan percaya pementasan ini dapat menjadi hiburan seni yang menarik untuk ditonton karena melibatkan para pemain yang merupakan aktris dan aktor yang sangat totalitas dalam seni peran, sehingga pementasan ini akan menjadi sesuatu yang pantas untuk dinantikan dan disaksikan,” ujar Ayu Dyah Pasha yang juga mewakili Yayasan Titian Penerus Bangsa.|Edo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*