Surga Menanti The Movie, Cerita Sukses Pemuda Menjadi Seorang Hafizh Qur’an

imageJakarta, UrbannewsiD. | Film produksi perdana Khanza Production yang disutradarai Hastobroto, Surga Menanti The Movie, bercerita mengenai seorang remaja bernama Dafa (Syakir Daulay) yang memiliki cita-cita yang mulia untuk menjadi seorang Hafizh Qur’an. Namun, disaat keinginannya hampir tercapai, ujian yang berat datang. Sang ibu, Humaira (Umi Pipiek Dian Irawati) divonis oleh dokter menderita leukimia. Ditengah keadaan itu, sang ayah, Yusuf (Agus Kuncoro) akhirnya dengan sangat memohon kepada Dafa yang sedang mondok disebuah pesantren untuk pulang dan menemani ibunya yang tengah dalam keadaan kritis.

Demi baktinya pada ibunya yang memang menjadi salah satu kewajiban utama, Dafa kembali kerumah dan pindah bersekolah di kampungnya. Perjalanan baru kehidupan Dafa dimulai. Dafa meraih cita-citanya sebagai Penghapal Al-Qur’an, dan bahkan dinobatkan menjadi penghapal Qur’an terbaik tatkala saat kedua orang tuanya tidak ada. Dan, di akhir cerita, Dafa menjelma menjadi pemuda yang sukses, bukan saja sebagai Hafizh Qur’an tapi pendidikan lainnya pun, Ia meraih gelar doktor di bidang AL Qur’an.

Surga Menanti The Movie yang skenarionya ditulis oleh Dyah Kalsitorini, menjadi debut Pipik Dian Irawati atau lebih dikenal Ummi Pipik dalam berdakwah semakin meningkat sejak ditinggal oleh suaminya, Ustad Jefry Al Buchori ( Uje) Rahimahullah. Kehadiran Ummi Pipik, Agus Kuncoro, Astri Ivo, Dela Puspita, Syakir Daulay, ditambah Syekh Ali Jaber dalam film drama religi yang syarat dengan dakwah ini, menjadi inspirasi keluarga muslim, khusunya kaum muda untuk hijrah menjalankan ajaran islam dengan benar.

Dakwah memang tidak melulu disampaikan secara lisan. Sejarah mencatat, media dakwah melalui seni dan budaya pada masa Wali Songo, khususnya yang dilakukan Sunan Bonang, adalah dakwah yang efektif dan terasa signifikan dalam hal penerapan ideologi Islam pada masyarakat di zamannya. Seperti halnya pula kegiatan dakwah yang akhir-akhir memanfaatkan medium film sangat pas dalam memberikan influence kebajikan bagi masyarakat umum. Maka ini dapat menjadi peluang yang baik bagi pelaku dakwah ketika efek dari film tersebut bisa diisi dengan konten-konten keislaman.

Surga Menanti The Movie dibuat, sepertinya memang diperuntukan sebagai medium dakwah. Tapi, setelah menyaksikan film tersebut dalam acara press screening yang digelar di Epicentrum XXI Jakarta, Senin (30/5), sesuai unsur yang melekat dalam film, yakni menghibur, mendidik, dan menginspirasi. Surga Menanti The Movie yang terlihat dan dirasakan hanya memenuhi dua unsur saja, yaitu mendidik dan menginspirasi. Sebagai sebuah tontonan, unsur drama sebagai penggambaran cerita dan isi pesan tidak seiring sejalan dieksekusi dan hasil akhirnya.

Tanpa mengurangi apresiasi dan semangat untuk menyebar kebaikan, seperti yang tersyirat dalam film ini. Ada beberapa catatan, dimana unsur logika yang dilihat oleh “mata pikiran” tidak terpenuhi dengan sempurna. Misalkan, Dafa yang di plot menjadi seorang Hafizh Qur’an sesuai harapan kedua orang tuanya tidak terlihat Ia sedang belajar menghafal Al Qur’an, baik oleh ayah bundanya saat Ia balita hingga remaja, maupun di sekolahnya, hanya terlihat saat diuji di pondok pesantrennya. Padahal, point ini sangat penting sebagai bagian dari inti pesan yang ingin disampaikan.

Film sebagai karya seni, cerita yang baik adalah cerita yang mampu menghubungkan cerita film dan isi pesan di dalamnya dengan penonton secara emosional. Hal ini, dimaksudkan agar dapat dengan mudah bertransformasi ke dalam pikiran dan imajinasi penontonnya agar dapat mampu berpikir, mencerna, mengubah perspektif dan cara pandang tentang sesuatu hal yang baru, serta hasilnya mampu mempengaruhi dan menggerakkan respon emosional penonton melakukan pesan yang tersirat yang ingin disampaikan. Surga Menanti The Movie juga harus tetap menghibur, kalau tidak orang enggan datang ke bioskop.|Edo (Foto Istimewa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*