Simfoni Tarling, Merawat Seni Tradisi Dengan Kemasan Modern!

image

Jakarta, UrbannewsID.| Suasana Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, seketika seperti perkampungan Cirebon. Suara musik perpaduan gitar dan suling yang menggelitik, serta suara para penyanyi bercengkok khas Cirebon muncul bergema saling bersahutan, semakin menambah semarak sekaligus menguatkan identitas daerah yang berada di ujung timur Jawa Barat.

Musik khas Cirebon yang melegenda ini menghentak panggung megah Graha Bakti Budaya TIM, Jakarta, dan untuk pertama kalinya ditampilkan para seniman Cirebon secara kolosal selama dua hari mulai tanggal 7-8 April 2017. Pegelaran bergengsi garapan Majelis Seni dan Tradisi (MeSTi) Cirebon yang diberi nama “Simfoni Tarling” ini pun, disaksikan ratusan orang dari berbagai kalangan.

imageSimfoni Tarling yang ditujukan sebagai bentuk persembahan dari Cirebon untuk Nusantara ini, menampilkan perpaduan pagelaran seni tari, seni sastra yang juga divisualisasikan dengan multimedia. Kurang lebih sekitar 100 orang yang terlibat dalam pertunjukan ini, termasuk para pemain berkaloborasi dengan musik modern orkestra serta musik tarling khas Cirebon.

Dedi Kampleng selaku sutradara mengatakan, sejumlah maestro tarling Cirebonan di setiap zamannya ikut terlibat dalam pertunjukan ini seperti Mama Jana, Hj Uun Kurniasih, Hj Ningsih, Nunung Alvi, dan Diana Sastra. Sayangnya maestro Tarling, H Sunaryo Marta Atmaja atau akrab disapa Kang Ato yang berencana turut hadir memeriahkan Simfoni Tarling baru saja menjalani perawatan medis sehingga kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk tampil.

Ada hal yang menarik dikemukakan Kampleng dalam proses produksi pertunjukan Simfoni Tarling. Dia menuturkan, sebagian besar orang yang terlibat baik itu musisi maupun penari, justru domisilinya tersebar di seluruh Nusantara. Misalnya, ada dari Tangerang, Lampung, Medan, Bali dan tentunya di Cirebon sendiri. Tapi berkat keseriusan dan semangat, akhirnya semua berjalan lancar menyuguhkan penampilan terbaiknya yang sangat bersejarah.

image

“Pertunjukan Simfoni Tarling yang menampilkan tarling klasik, tradisi sintren serta tari panjang jimat ini, mengandung filosofi budaya luhur keraton. Di iringi oleh Tabuhan Nusantara Ethnic Orchestra dibawah Conductor Kang Oeblet yang kualitas musikalisasi musiknya sudah tidak diragukan lagi di tingkat nasional hingga mancanegara, menjadi sebuah pementasan yang bikin kita bangga sekaligus terharu,” jelas Kampleng, saat dijumpai di TIM, Sabtu (8/4) malam.

Gagasan pertunjukan Simfoni Tarling ini semata-mata dari keprihatinan para seniman, dimana Cirebon memiliki kekayaan seni, tradisi dan budaya yang adiluhung kurang dilirik oleh generasi muda saat ini. Apalagi, Musik Tarling hanya terdengar dan muncul di kampung-kampung dengan kondisi kemasan pertunjukan seadanya, semakin membuat jarak dan terpinggirkan. Untuk itu, Simfoni Tarling dikemas menarik dan kekinian tanpa mengurangi nilai-nilai mendasar dari tarling itu sendiri.

image

Pertunjukan Simfoni Tarling sebagai bentuk komitmen para seniman melestarikan, mengembangkan, dan mengenalkan musik tradisi khas Cirebon kepada khalayak senusantara, khususnya generasi muda di tengah derasnya gempuran pertunjukan seni musik yang datang dari Barat. Menariknya, gelaran ini terlaksana tanpa sponsor tapi justru 100% dibiaya sendiri oleh para seniman yang terlibat melalui urunan atau secara kolektif.

Pementasan tarling yang tidak semata berfokus pada nada dan musik, namun juga teks-teks di setiap bait syair lagu menjadi kidung merupakan sarana komunikasi budaya dengan masyarakat. Sayang, Pemerintah Daerah Cirebon yang berkewajiban ikut terlibat bersama-sama para seniman berupaya melestarikan seni budaya dan pengembangannya, kurang perhatian. Bahkan, terlihat para senimannya dibiarkan berjalan dan berjibaku sendiri. Sungguh sangat ironis!.|Edo (Foto Dudut SP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*