Setelah 17 Tahun Karya Noorca M. Massardi

image

Andaikan Allah bertanya kepadaku, sebagai suami aku rida kamu masuk ke surga. Dari pintu mana pun,” kata Alfian untuk kesekian kalinya.
Aku tertegun sejenak di teras rumah itu. Ada yang terasa berdesir di dalam dadaku ketika mendengar lelaki itu berbicara sekali lagi, dengan ungkapan dan kalimat yang sama, dibelakang punggungku. Aku hendak berbalik untuk menentang kedua bola matanya. Urung.
Pagi itu aku tidak mau menjalin percakapan lagi. Semua sudah kukatakan dan segalanya telah kuungkapkan. Bahkan di sidang pengadilan. Cukup aku menanggung luka ini sendirian. Tujuh belas tahun lamanya. “Terima kasih, Mas,” — Putri.

Jakarta, UrbannewsID. | Tulisan di atas adalah kalimat pembuka yang dituturkan Noorca M. Massardi dalam novel terbarunya berjudul “Setelah 17 Tahun”. Berbeda dengan novel-novel sebelumnya, dalam novel ini Noorca mengangkat kisah nyata tentang derita seorang perempuan bernama Putri Maulida yang menerima kekerasan verbal dari sang suami, Alfian namanya, selama 17 tahun.

Paralel dengan itu pula, diam-diam ada seorang pemuda (Andri Bangsawan) yang menderita, karena ia harus memendam cinta kepada Putri selama 17 tahun pula. Akhirnya takdir mempertemukan kembali mereka berdua, ketika Putri yang berprofesi sebagai notaris tengah menjanda dengan tiga anak, dan Andri yang lawyer sudah menduda dengan dua anak.

Noorca M. Massardi mengungkapkan, novel Setelah 17 Tahun ini adalah drama psikologis rumah tangga. Para tokohnya mengalami trauma dan terbelenggu kepahitan masa silam. Demi anak-anak dan keluarga, akhirnya mereka mengambil langkah dan keputusan yang berani. Suami dari pengarang Rayni N. Massardi ini, mengingatkan sekaligus juga memberikan pemahaman bahwa kekerasan verbal sama berbahayanya seperti kekerasan fisik.

Kekerasan verbal atau pelecehan lewat kata-kata sangat sulit di indentifikasi layaknya fisik yang kasat mata. Tapi, jika kekerasan verbal dilakukan berulang-ulang dan terus menerus berdampak pada luka hati yang berkepanjangan, seperti depresi, traumatik, tidak percaya diri dan bahkan bisa gila. “Saya berusaha untuk menemukan pendekatan yang pas secara psikologi lewat riset dan bertanya lewat ahlinya sebagai penguat cerita ini,” jelasnya, saat acara Bincang dan Berbagi Novel “Setelah 17 Tahun” yang digelar di Midtown SCBD, Jakarta, Sabtu (17/9) sore.

Menurut Joice Manurung, C.Ht, Cha, seorang psikolog, yang hadir sebagai salah satu nara sumber, kekerasan verbal atau verbal abuse adalah bentuk lain dari kekerasan yang sering juga terjadi dalam hubungan. Dan, bahkan seringkali dianggap sebagai permasalahan ‘biasa’ baik antar pasangan, orang tua kepada anak, guru kepada murid, atasan dan bawahan, bahkan antar sesama teman. Tapi, tanpa sadar sebenarnya telah menabarkan virus yang berujung pada luka hati.

Joice mencontohkan, verbal abuse atau kekerasan verbal seperti memanggil dengan nama panggilan yang diskriminatif (warna kulit, ras, kecerdasan, bentuk badan, kebiasaan, kelemahan, jenis hewan, dll).Apalagi kata-kata kritis, sarkastik, dan kata-kata mengejek dilakukan dalam nada tinggi serta gestur yang mendukung kata-katanya. “Saya menyebutnya sindrom “berjalan di atas telur kerang”, karena Anda hidup dengan seseorang yang berbicara secara lisan balistik untuk alasan-alasan kecil,” papar Joice, menambahkan.

Novel “Setelah 17 Tahun” karya ketujuh Noorca M. Massardi ini, bukan saja sekedar cerita tentang kisah kehidupan Putri. Tapi, ada sebuah catatan penting bagi semua orang untuk mengenali, mengetahui dan memahami karakteristik serta kategori kekerasan verbal dalam segala bentuknya. Walau kecenderungan selalu ada penyangkalan oleh pelaku, tetap kewenangan untuk mengenali dan menindaklanjuti kekerasan verbal yang terjadi terletak pada kita dan juga pasangannya.|Edo (Foto Ihsan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*