‘Sacred Geometry’, EP Progressive Metal Indra Lesmana Project

IMG_20180627_210423-800x566-600x425

UrbannewsID Musik | Indra Lesmana, adalah sosok musisi yang tidak pernah berhenti di satu titik yang sama. Ibarat air, ia terus bergerak menyusuri areal yang menurun, kemudian mengisi ceruk kosong yang dilintasinya. Sebagai musisi sejatinya memang seperti itu. Apalagi ketika bermusik menjadi pilihan hidup, maka tidak mengenal kata lelah. Ia harus berani bercumbu dengan ide dan kreatifitas tanpa batas.

Kita –saya dan Anda –tentu mengenal Indra Lesmana sebagai musisi jazz. Bukan saja ia terlahir dari seorang legend gitaris jazz yang dimiliki Indonesia, Jack Lesmana. Tapi, riwayat bermusiknya tertera dalam katalog musik bersama beberapa grup musik yang dilakoninya seperti bersama sang ayah, Indra & Jack Lesmana Quartet, Adegan, Krakatau, GIF (Gilang Indra Fariz), Vision, Andromeda, Exit, PIG (Pra Indra Gilang), dan masih banyak lagi.

Tidak hanya itu, Indra seolah tak henti bereksplorasi dalam bermusik. Ia banyak menemukan etos kebebasan dalam medium musik. Kita mungkin mahfum dengan kredo bermusiknya, apalagi jika menyimak lirik lagu karyanya berjudul ‘Aku Ingin’ yang dinyanyikannya; Aku ingin dapat bebas lepas, Aku ingin senantiasa merasa bahagia, Aku ingin dapat terbang jauh, Bila tiada yang perduli.

Jadi jangan heran, jika kita telusuri wilayah musik yang dimainkan Indra semakin meluas. Ia tak hanya bermain di ranah jazz, melainkan merambah ke musik pop, rock, hingga dangdut sekalipun. Dan Hari ini, Rabu (27/6) di Lemmon Building yang berada dikawasan Pejaten, Jakarta, Indra Lesmana memperkenalkan unit baru garapannya diranah progressive metal bernama Indra Lesmana Projezt (ILP).

Sebuah EP perdananya bertajuk ‘Sacred Geometry’ yang berisikan 4 komposisi lagu diluncurkan untuk pertama kalinya di hadapan 500-an penonton. Empat nomor yang diperkenalkan dan dimainkan lewat mini konser malam itu yakni Awakening, Acknowledge, Ascension, dan Acceptation. Ke-4 lagu tersebut, menurut Indra memiliki kisah dan keterkaitan satu sama dengan lainnya. Ini buah kontemplasi Indra dengan alam serta suasana hatinya.

Indra dalam project musikalnya kali ini, tidak sendiri. Indra yang ditemani Shadu Shah sang bassis, menggelar audisi mencari personel lainnya untuk mengisi gitaris, drummer, dan vokalis yang masih kosong lewat jejaring via Instagram. “Dalam project ini, saya coba lempar lewat IG dengan sedikit contoh musik yang harus dimaenkan. Mereka tinggal mengisi sesuai kriteria, kemudian mereka rekam dalam bentuk video, dan di submite untuk dinilai,” jelas Indra.

Dari ratusan masing-masing yang ikut berdasarkan kategori, akhirnya Indra dan Shadu menetapkan Hata Arysatya sebagai drummer, Karis dan Rayhan Syarif pada posisi gitaris, dan Togar Naibaho sebagai vokalis. Dalam project ini, Indra juga jejaring Sound engineer yang akan membantu mereka yang berhubungan dengan penggunaan mesin dan equipment untuk rekaman, audio, editing, mixing, mastering dan reproduksi suara saat manggung.

Mengutip pernyataan Jeffrey A. Macak-President JMI Publications, USA, bahwa, musisi-musisi yang sukses di industri musik, tidak sekadar memasukkan jempol kaki mereka untuk memeriksa keadaan air, tapi mereka langsung terjun dengan kepala mereka lebih dahulu, dan tidak pernah lagi melihat ke belakang. Pernyataan ini artinya, sekali Anda memilih menjadi seorang musisi maka seumur hidup Anda akan terus menjadi musisi.

Dan, Indra mencoba membuktikannya lewat ILP yang mamainkan musik progressive metal. Konon katanya, sebagai pembuktian bahwa ia pun bisa berada di skena musik yang satu ini. Terlepas dari apakah mereka diterima lebih luas atau hanya di golongan minoritas di industri, itu lain cerita. Keberanian Indra dkk layak diacungi jempol, karena mereka memang bisa bermain musik dengan baik dan benar.

Tapi sebagai bagian dari embrio komunitas progressive metal di Indonesia, Indra Lesmana tidak sedang kebingungan. Seperti terjebak pada demarkasi atau garis batas yang abu-abu. Antara mengedepankan idealisme, atau muncul di lapak industri sebagai bagian eksistensi dan populeritas band saja. Karena kalau itu yang mereka cari, mereka pasti akan makin kebingungan mencari selah menembusnya.

ILP adalah musisi yang memberikan pertempuran baru yang –konon—mencerdaskan. Dalam area yang berbeda, musik seperti itu kadang dijuluki musik neopositivisme, lahir dari satu sumber pengetahuan, yaitu pengalaman. Apalagi jika kemudian berhasil dianggap menelorkan subgenre baru dengan style yang berbeda dengan rasa ke-Indonesia-an lewat selipan bebunyian instrumen tradisi, akan relevan untuk para penggemar baru, Progressive Metal.

Sekali lagi, semoga kehadiran Indra Lesmana Project tidak terjebak pada demarkasi atau garis batas yang abu-abu. Dimana tersirat garis tipis entitas, idealisme, eksistensi dan kebingungan jati diri. Tidak seperti makna kata “project”, setelah selesai ya bubar. Indra nampak serius dengan grup band terbarunya ini, lewat pernyataan bahwa tahun ini bersiap melahirkan album penuh dan akan melakukan tur ke beberapa kota.

Satu hal yang terpenting, bermusik tidak saja menciptakan notasi-notasi yang baik dan enak di dengarkan. Tapi, juga harus pandai menciptakan notasi serta irama kerja yang harmoni, dengan manajemen yang solid dan professional. Saat ini, band bukan sekedar memainkan alat musik, mempertontonkan kepiwaiaan, atau sekedar melahirkan karya. Band kini menjelma menjadi sebuah brand, dimana segala sesuatu terkonsep dengan baik. Semoga!.|Edo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*