Rekam Jejak 35th Slank Di Konser Indonesia Now!

20181016_192817-800x494-600x371

UrbannewsID Musik | Rekam jejak 35th perjalanan Slank di panggung musik Indonesia, dengan segala cerita menarik pasang surutnya sampai menjadi sebuah grup band tangguh. Tidak lepas dari eksistensi Slank yang telah melampui fitrahnya sebagai musisi. Bahkan, berbagai kalangan mengakui pengaruhnya lebih menyerupai sebuah paham. Semua ini diraihnya berkat kegigihan yang tidak mengenal Ielah dalam memegang komitmen atas nama profesi.

Oleh karena itu, tidak salah jika Dhani Pette dan kawan-kawan dari Pos Entertentainment memberi apresiasi yang tinggi atas perjalanan 35th Slank dalam gelaran konser spektakular pada 23 Desember 2018 di Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, dengan judul: Indonesia Now. Dan, judul ini diambil dari single terbaru yang mengangkat fenomena bagaimana teknologi digital sudah demikian merasuk pada berbagai sendi kehidupan.

Slank yang kini masuk formasi ke-14, di gawangi Kakak (vokal), Ridho Hafiedz (gitar), Abdee Negara (gitar), Ivanka (bass) dan Bimbim (drum), akan memberikan suguhan sederet tembang yang terangkum dalam 22 album, dan tentunya masih terekam dalam memori para pencinta musik tanah air hingga kini. “Pastinya, akan berbeda dari konser 5 tahun lalu ditempat yang sama,” ujar Bimbim, Selasa (16/10) siang, di Sallo Innyan Tebet, Jakarta.

Menurut Dhani Pette, sebagai sebuah band, Slank sangat fenomenal. Walau kerap gonta-ganti formasi, Slank tetap tidak pernah berubah. Slank masih dengan karakter rock n’ roll yang kuat, dan digemari banyak orang. “Terus terang, saya ngiri melihat konser band luar negeri terlihat begitu megah dan mewah, sementara disini tidak ada yang seperti itu. Slank di usianya yang ke-35 tahun, saya rasa sangat layak juga dibuatkan konser besar yang spektakuler,” pungkas Dhani.

Dhani Pette juga menambahkan, bahwa Gelora Bung Karno (GBK) dengan kapasitas penonton kurang lebih 100 ribu orang, tata panggung, lampu, suara, dan Liquid Crystal Display (LCD) monitor menjadi equipment penting. “Tapi konsepnya seperti apa? Mungkin, pada press conference berikutnya kita sampaikan secara detail. Termasuk juga harga tiket, nantinya. Hari ini, sekedar pemberitahuan pertama Slank siap gelar konser,” tukasnya.

Ditelisik dari sejarahnya, Slank bermula dari Sekolah Perguruan Cikini, atau biasa disingkat Percik, yang terletak di Jakarta Pusat. Pada awal 1980-an, Bimo Setiawan Almachzumi (Bimbim) mengibarkan Cikini Stones Complex (CSC), sekedar nongkrong dang ngeband yang khusus membawakan Iagu-lagu The Rolling Stones. Tidak lama kemudian Bimbim membentuk Red Evil dengan mengajak gitaris eks CSC, Kiki, serta sepupunya Ahmad Ramadhani pada bas.

Pada tanggal 26 Desember tahun 1983 nama Red Evil resmi diganti menjadi Slank. Saat itu Ahmad Ramadhani tengah merayakan ulang tahun di arena Bowling Hotel Kartika Chandra, Jakarta Pusat. Formasi pertamanya adalah Erwan (vokal), Bongky (gitar), Kiki (gitar), Ahmad Ramadhani (bass), dan Bimbim (drum). Kampus Universitas Nasional (Unas) merupakan saksi sejarah pemunculan perdana.

Laiknya band baru yang belum menemukan identitas, Slank berulang kali mengalami bongkar-pasang formasi. Markas di jalan Potlot lll/14, Duren Tiga, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, menjadi tempat nongkrong anak band. Alumnusnya antara Iain Oppie Andaresta, Imanez, Andi Liani, Anang Hermansyah (kini anggota DPR) dan video maker Dimas Jayadiningrat.

Pada pergantian formasi ke 13 Kaka (vokal), Pay (gitar), Bongky (bass), Indra Q (keyboard) dan Bimbim (drum) Slank bertemu dengan perancang grafis Boedi Soesatio yang berlanjut pada kerja sama pembuatan album. Kuartal pertama 1991 dirilislah debut album Suit-Suit He-He (Gadis Sexy). Hingga kini, Slank telah membuat rekaman tidak kurang dari 18 (delapan belas) album dan sejumlah hit yang sangat populer tidak saja di kalangan para Slankers melainkan juga pencinta genre Iain.

Belakangan Ahmad Ramadhani memilih non aktif bermain musik untuk berkonsentrasi sebagai manager Slank dan dikenal dengan panggilan Bang Denny. Tema lirik Iagu Slank mengangkat yang sangat beragam dengan bahasa keseharian. Mulai percintaan, budaya, sosial hingga politik. Sejak awal mereka terbiasa menyuarakan kegelisahan melalui bahasa lugas tanpa rekayasa sehingga mudah ditangkap oleh nalar paling awam sekali pun.

Perjalanan Slank tentu saja mengalami pasang surut. Cobaan datang bertubi-tubi. Dari tersangkut masalah obat-obatan terlarang hingga isu perpecahan. Secara alamiah berbagai peristiwa tersebut telah menempa mereka menjadi sebuah grup band tangguh. Mereka terus mengentak dunia panggung dan rekaman bahkan ketika band seangkatannya banyak yang berguguran. Formasi terakhir ke-14 inilah turut berkotribusi dalam melahirkan Slankers generasi baru yang Iebih modis.|Edo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*