Mhyajo Berjibaku Sendiri Menuju Lincoln Centre, New York!

image

Jakarta, UrbannewsID.| “Ketidakmungkinan yang disemogakan”. Menyitir sebuah kalimat yang dilontarkan seorang sahabat seperti ini, memang terasa aneh, atau sedikit tidak lazim. Tapi kalau kita sedikit berpikir jernih, kalimat itu punya pengejawantahan yang bisa amat dalam maknanya. Tidak ada yang tidak mungkin, jika niat dan usaha, serta kerja cerdas semuanya serba mungkin saja di segerakan atawa di semogakan cepat menuai hasil bin sukses.

Contohnya; seperti yang dilakukan wanita enerjik bernama lengkap Maria Novita Johannes, atau yang akrab di sapa Mhyajo (mia-jo). Seni pertunjukan yang di lakoni nya selama ini, sebagai orang dibalik layar yang dipenuhi ide kreatif, tidak berhenti belajar menghadapi tantangan besar, rumit sekaligus kaya. Tugas dan tanggung jawabnya, adalah berusaha bagaimana melestarikan seni (pertunjukan) di masa depan.

Peraih penghargaan Catha Mardhika dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, beberapa tahun lalu, atas hasil karya kreatifnya memadukan “kultur” Indonesia ke dalam karya seni pertunjukkan yang digarapnya. Mhyajo paham betul, bahwa penguasaan teknik-teknik, berjalan sangat kompleks, yang didalamnya memuat pertarungan pengetahuan, pengalaman dan tentu kesadaran. Untuk itu, ia meninggalkan comfort-zone nya saat ini, demi mengejar cita-citanya.

Pencarian penuh semangat dan intens dilakoninya, memilih sebuah program khusus seni pertunjukkan internasional, yang menjadi program tahunan lembaga seni berkelas dunia, Lincoln Centre, New York, Amerika Serikat. Mhyajo pun berjibaku sendiri merancang dan mengirimkan sendiri berkas aplikasi berupa 20 halaman jawaban dari 7 pertanyaan yang menjadi persyaratan dan proses seleksi yang harus dapat dilaluinya.

Bukan sekedar aplikasi jawaban, dikirimkannya juga sebuah naskah pertunjukan berbahasa Inggris setebal 80 halaman, serta video rekaman hasil karyanya selama ini. Dan akhirnya, pada Februari 2017 lalu, Mhyajo menjadi orang Indonesia pertama yang lolos dari 70 pelaku kreatif seni pertunjukkan dari 33 negara, untuk mengikuti program tahunan Lincoln Centre

Perjuangan Mhyajo tidak sia-sia. Mimpinya menempatkan diri bukan sebagai pihak yang telah paripurna, melainkan sebagai pembelajar, yakni pihak yang terus belajar, dan terus berusaha menemukan ruang edukasi, bukan saja bagi orang lain, namun juga bagi dirinya. Kalimat “Ketidakmungkinan yang disemogakan” terjawab sudah. Satu setengah bulan ia akan berada di Lincoln Centre, berbagi ide kreatif, bertukar dan minimba ilmu seni pertunjukan untuk dibawa pulang.

Memperkembangkan ruang edukasi yang bermakna, baik dalam kerangka seni pertunjukan ragam bentuk, maupun dalam kerangka pendidikan yang lebih luas. Pada satu sisi, pendidikan menjadi wahana ―pewarisan (tentu yang dimaksudkan disini adalah nilai, etos kreatif, dan beberapa kreasi yang dipandang sarat makna) seni, dan di sisi yang lain, sesungguhnya bermakna sebagai arena saling belajar dan sebagai ruang kreatif bersama untuk mencipta.

Pendidikan yang terbelenggu dalam format konvensional, tentu akan sulit mendapatkan makna tersebut. Sebaliknya, pendidikan dalam format kreatif tentu akan mampu menembus berbagai sekat, dan menjadikan dirinya sebagai arena kebudayaan. “Aku ingin terus bergerak, terus memancing kreatifitasku. Aku tak ingin berhenti cepat, berpuas diri. Aku harus lebih berkembang lagi,” jelas Mhyajo, saat bidang santai disebuah café di bilangan Kebayoran Baru, Senin (5/6) malam.

Perjuangan yang paling menarik Mhyjo berangkat ke Lincoln Centre, New York, Amerika Serikat, pada tanggal 18 Juni nanti, dan akan bergabung dalam satu group bersama rekan lainnya, dari Rusia, Uganda, Etopia, Polandia, dan India. Bukan saja, menjadi wanita pertama dan satu-satunya dari Indonesia yang terpilh program tahunan Lincoln Centre, tapi penyelenggaraan yang ke-12 kali ini, Mhyjo menjadi salah satu dari empat peserta mendapatkan fasilitas “full scholarship” dari satu foundation yang di inisiasi Lincoln Centre.

Sayangnya, Mhyjo yang membawa bendera Indonesia dalam persilangan budaya di percaturan global seni pertunjukan disana, kurang mendapat apresiasi yang cukup dari para pemangku kepentingan dunia pendidikan dan kreatif di negeranya sendiri. Mhyjo sebenarnya adalah aset berharga, pemikirannya, kreatifitasnya, dan kecintaannya dalam seni pertunjukan, hasil pengembaraannya di Lincoln Centre bisa dijadikan rujukan di Indonesia, sebenarnya. Anehnya, disini Ia malah dibiarkan berjibaku sendiri, malah Lincoln Centre yang melihat dan menangkap potensi Mhyjo.|Edo (Foto Ihsan/dsp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*