Martell Dalam Seni Kontemporer Ditengah Ladang Makna!

IMG_20180301_192333

Jakarta, UrbannewsID.| Dunia sekitar seniman menyediakan berbagai pemaknaan bagi seniman. Karya tidak saja terwujud semata-mata dari pemaknaan personal seniman dari apa yang ia lihat, bukan mustahil seniman juga mendapat gagasan berkarya dari makna-makna lain tentang dunia sekitarnya yang dicetuskan orang lain. Bisa dari buku, internet, atau sekedar dari obrolan biasa.

Maka, seniman tidak lagi hanya berurusan dengan makna yang ia ciptakan sendiri, ia justru berada di antara makna-makna lainnya. Dunia sekitar bagi seorang seniman adalah bukan saja tempat ia hidup, tapi lebih dari itu yakni tempat yang ”menghidupi” karyanya. Dunia sekitar adalah sebuah ”Iadang makna” yang justru memungkinkan gagasan berkarya seorang seniman hidup subur.

Bila dunia sekitar dilihat sebagai sebuah ‘makrokosmos’ yang mellngkupi seniman. Maka seorang seniman sebagai individu, adalah ‘mikrokosmos’ (semesta kecil) di tengah-tengah Iadang makna. Dan, “Semesta Kecil di tengah-tengah Ladang Makna” inilah menjadi tema pameran seni kontemporer karya seniman muda Indonesia selama 11 hari, mulai dari tanggal 1- 11 Maret 2018, bertempat di Edwin’s Gallery, Kemang, Jakarta Selatan.

Pameran seni kontemporer yang didukung oleh 14 seniman Indonesia, dan dikuratori Danuh Tyas ini. Merupakan wujud keperdulian dan konsistensi Martell, minuman cognac asal Francis, dengan banyaknya potensi tinggi yang berbakat dalam bidang seni, termasuk seni kontemporer. Menurut Edhi Sumadi, selaku Managing Director PT Pernod Ricard Indonesia, bekerjasama menggelar art exhibition dengan Edwin’s Gallery berdasarkan pengalaman, dan merasa cocok.

Bagi seorang seniman, karya seni merupakan sebuah perwujudan ide, cara pandang, serta buah hasil pemikiran mereka terhadap segala hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya. “Seniman dalam menciptakan sebuah karya seni, proses pemikirannya sama persis dengan pembuat cognac yang memadukan ketelitian, keterampilan, dan kesabaran, untuk menghasilkan rasa seni yang tinggi,” jelas Edhi Sumadi, Kamis (1/3) sore.

Dunia sekitar dianalogikan sebagai “ladang makna” yang secara literatur dapat membuat gagasan berkarya seorang seniman tumbuh subur. Seperti mereka yang terlibat dalam pameran ini, yakni: Abenk Alter, Anton Subiyanto, Emte (Muhammad Taufiq), Hendra ‘Blankon’ Priyadhani, I Putu Adi Suanjaya ‘Kencut,’ Michael Binuko, Ngakan Putu Agus Arta Wijaya, Nurrachmat Widyasena, Radhinal Indra, Rocka Radipa, Rudy Atjeh, Sekarputri Sidhiawati, Walid Syarthowi, dan Yosefa Aulia.

Meskipun ini merupakan pagelaran seni yang diadakan untuk ke-12 kalinya, Martell tetap tidak melupakan tujuan awal diselenggarakannya acara ini, yaitu ingin memajukan dunia seni kontemporer Indonesia. “Agar di masa mendatang akan banyak pengakuan lebih dari dunia Internasional dan juga pasar domestik terkait dengan seni kontemporer yang negara ini miliki,” pungkas Edhi Sumadi, menambahkan

Selama lebih dari 300 tahun, Martell Cognac telah menjadi sebuah simbol bagi perayaan French Art de Vivre yang melambangkan kesenangan, keindahan, serta semangat akan kehidupan yang telah diturunkan dari generasi ke generasi di dalam keluarga besar Martell Cognac. Keindahan serta seni adalah dua hal yang saling berkaitan erat serta memberikan sentuhan historikal dalam penciptaan setiap botol cognac yang tidak pernah luput dari sentuhan seni yang menawan.

Jaques Menier- Martell Heritage Director, yang di dampingi Edhi Sumadi, Jean Jacques Regnsult-Martell VIP Hospitaly Manager, dan Edwin Rahardjo-Owner Edwin’s Gallery, mengungkapkan, ”Tiga pilar dipilih Martell Cognac sebagai landasan utama, yaitu Art of Craftmanship, Art of Tasting, dan Art of Gastronomy, adalah pilar-pilar yang menjadi ‘darah’, dan akan terus mengalir di setiap tetesnya hingga kini dan masa mendatang.”|Edo (Foto Nur Ichsan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*