Lightcraft; Jadilah Agen Perubahan Musikal di Playtime Festival Mongolia

IMG_20180706_081611-605x436

UrbannewsID Musik | Ketika sebagian musisi atau group band masih terlelap dalam tidur panjang, bersama mimpi indahnya mengukir prestasi penuh fantasi. Justru, kuartet anthemic indie-rock lightcraft sedang berjibaku merampungkan album ketiga mereka “Us Is All”, yang dijadwalkan rilis pada akhir Agustus 2018. Bukan cuma itu, band asal Jakarta ini pun mewartakan sebuah kabar gembira, bahwa mereka akan unjuk kebolehan dihadapan 40,000 penonton di event musik ‘Playtime Festival 2018’, Sabtu, 7 Juli 2018, 8.30pm, New Wave Stage di pelataran Hotel Mongolia yang berada di Gachuurt Village, terletak 30 km dari ibukota Ulaanbaatar.

Playtime Festival sendiri sudah berjalan sekitar 16 tahunan, telah menghadirkan lebih dari 500 penampil dari berbagai penjuru dunia. Festival berskala internasional ini, kerap mendatangkan artis-artis ternama dunia seperti Peter Hook & The Light, The Pains Of Being Pure At Heart, Envy, Japandroids, The Radio Dept., dan masih banyak lagi. Tampil dipanggung internasional, bagi lightcraft bukan yang pertama, sebelumnya mereka telah menjelajahi berbagai panggung dan festival di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Rusia, Korea Selatan, Taiwan, India, Singapura, Thailand, dan Malaysia.

“Kehadiran kami di Playtime Festival 2018, Mongolia, undangan langsung yang disampaikan oleh pendirinya. Ketika kami tampil di festival musik V-Rox di Vladivostok, Rusia tahun lalu, dia menghampiri dan mengucap salam. Diam-diam, rupanya dia hadir disetiap penampilan kami, dan menyatakan dirinya jatuh cinta dengan musik kami. Sejurus kemudian, dia menawarkan kesediaan kami untuk bermain di Playtime Festival Mongolia. Tanpa ragu, kami langsung meng’iyakan,’ terang Enrico, kibordis lightcraft.

PLAYTIME FESTIVAL 2018 POSTER-600x849-300x425Tahun ini, nama-nama seperti The fin (Jepang), Ariel Pink (AS), Lite (Jepang), Happy Juzz (Rusia), dan Laybricks (Korea Selatan) menjadi representatif band-band internasional yang bakal tampil. Sementara, jagoan lokal seperti The Colors, Surug Huch, dan berbagai penampil andalan mereka lainnya untuk mengibarkan panji-panji Mongolia. Lightcraft sendiri akan menjadi salah satu band dari Indonesia yang tampil di festival tersebut, selain duo elektronik asal Bandung yaitu Bottlesmoker. “Kami sungguh bangga mewakili Indonesia tampil di Playtime Festival 2018. Do’a kan saja, berjalan lancar!,” pungkas Fari sang gitaris, menambahkan.

Selain memiliki kemampuan berkarya membuat lagu dan kata-kata, saat ini musisi harus pula punya bekal untuk menganalisis dan mengantisipasi perkembangan dunia musik itu sendiri. Tidak melulu berada di kotak dan irama yang sama, atau genre berjenis kelamin serupa. Musisi harus ‘larI cepat’, dan jika perlu menjadi agen perubahan musikal. Artinya, bisa melahirkan genre-genre musik yang ‘simbiosis mutualis’ antara satu genre dengan genre yang lain.

Misal, bagaimana punk mengajak gamelan, jazz melibatkan ornament rock, electronic music menggaet keroncong, dan masih banyak lagi olahan yang menarik dan melahirkan turunan baru. Meski secara masif, saya tidak akan bilang dominasi salah satu genre, tapi lahirnya genre ‘new comer’ itu bisa menjadi senjata pamungkas dan identitas. Ya, ini semacam evolusi musikal, bukan revolusi. Ketika berada dipanggung yang sama dengan banyak band dari manca negara, Lightcraft tidak saja muncul dengan kepiawaian bermain musik, lagu yang asyik, tapi juga nada musik yang unik.|Edo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*