Happy Salma Siap Pentaskan Kisah Romansa Chairil Anwar!

image

Jakarta, UrbannewsID.| Chairil Anwar menjadi sosok yang sentral dalam dunia sastra Indonesia modern. Ia dianggap sebagai sosok pembaharu dalam dunia sastra Indonesia modern. Chairil Anwar menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa sastra yang cukup dewasa dan matang. Dalam sajak-sajaknya pengaruh bahasa asing memang ada namun Chairil dapat memanifestasikan ke dalam bahasa Indonesia  yang bersifat Indonesia, bukan melayu lagi. Chairil membukakan jalan bagi pemakaian bahasa tersebut yang sampai sekarang masih dipakai oleh penyair-penyair baru setelahnya. Itulah Chairil Anwar, penyair revolusioner Indonesia.

Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922 dan wafat diusianya yang terbilang masih sangat muda yakni 26 tahun pada 28 April 1949 di Rumah Sakit CBZ yang sekarang berubah menjadi Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Selama masa hidupnya yang terbilang masih sangat muda, Chairil Anwar telah mengeluarkan banyak karya, diantara 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. Beberapa puisi yang dibuat olehnya ditujukan untuk perempuan-perempuan yang sempat mengisi hatinya.

Meskipun penampilannya urakan, namun nama Chairil Anwar bisa dikatakan sangat tenar dan dikenal sebagai pemuda yang banyak penggemarnya terutama di kalangan para wanita masa itu. Ketampanan yang dimilikinya menjadi daya tarik banyak wanita, kulitnya putih dan wajahnya menyerupai Indo. Chairil Anwar juga merupakan pria yang dikenal pintar memikat gadis-gadis karena dia termasuk orang mudah bergaul dan berteman dengan siapa saja, baik itu teman lelaki atapun perempuan. Chairil pernah tertarik pada beberapa perempuan seperti, Karinah Moorjono, Dien Tamaela, Gadis Rasid, Sri Arjati, Ida, dan Sumirat.

Dari sekian banyak nama wanita yang berhasil mencuri perhatiannya, namun hanya ada satu nama wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta saat ia menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi sayangnya sang penyair hingga akhir hayatnya tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanya pada Sri Ayati. Hanya sajak yang sangat romantik “Senja di Pelabuhan Kecil”, menggambarkan tentang perempuan yang cantik dan berwajah melankolis, yakni Ajati”.

Kisah romansa Chairil Anwar dan wanita-wanita disekitarnya inilah, menjadi fokus Titimangsa Foundation untuk diangkat ke panggung pementasan teater dengan lakon ‘Perempuan Perempuan Chairil’, yang akan digelar selama dua hari yaitu tanggal 11 & 12 November 2017 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Lakon ini akan menjadi “biografi puitis” dari Chairil Anwar yang ditulisnya untuk perempuan-perempuan yang dicintainya baik secara terbuka atau pun diam-diam. Dari kisah cinta yang penuh gelora hingga kisah cintanya yang romantik dan muram terpendam.

image

Happy Salma dari Titimangsa Foundation sekaligus produser, menuturkan, pentas teater terbarunya ini sebagai bentuk kecintaannya pada karya-karya seni khususnya sastra. “Saya sangat antusias dapat kembali mengapresiasi karya penulis besar Indonesia ke dalam teater melalui pementasan ‘Perempuan Perempuan Chairil’ mendatang. Bersama rekan-rekan aktor yang telah berdedikasi di bidang perfilman, merupakan salah satu cara saya untuk terus menghidupkan teater dan menyebarkan virus kecintaan terhadap karya besar sastrawan Indonesia,” ujar Happy, saat syukuran sebelum memulai proses latihan di kawasan Kemang, Jakarta, Sabtu (19/8) siang.

Acara syukuran yang dihadiri oleh Evawani Alissa putri Chairil Anwar dari pernikahannya dengan Hapsah Wiraredja. Happy menambahkan, Chairil Anwar adalah sosok yang inspiratif. Ia tidak hanya merupakan penyair besar Indonesia yang mampu membuat Bahasa Indonesia memiliki kekuatan puitik melalui puisi-puisi yang ditulisnya, namun Chairil Anwar juga menjadi gambaran manusia Indonesia modern yang bergelut dengan gagasan-gagasan modernisme dan nasionalisme. Inilah yang membuatnya sangat inspiratif hingga saat ini, karena karya-karyanya dapat menjadi refleksi banyak hal, terkait sejarah sebuah bangsa yang ingin menemukan identitas nasionalisme.

Agus Noor yang di dampuk sebagai sutradara dan penulis naskah, mencoba mengangkat sisi lain dari sosok Chairil Anwar dari buku berjudul “Chairil” yang ditulis oleh Hasan Aspahani dan diterbitkan oleh Plot Point – Wahana Kreator Indonesia bekerjasama dengan penerbit Gagas Media. Bersama penulis bukunya, Hasan Aspahani yang ikut terlibat sebagai supervisi naskah. Untuk kepentingan pementasan teater yang durasinya sangat terbatas, perempuan-perempuan disekitar Chairil yang banyak sekali. Agus Noor mencoba membatasi hanya empat sosok yang memiliki karakter menarik.

image

Pementasan teater ‘Perempuan Perempuan Chairil’ yang tiketnya dibandrol kisaran harga Rp 200 ribu hingga Rp 2 juta ini. Menampilkan aktris dan aktor terbaik Indonesia yaitu Reza Rahadian sebagai Chairil Anwar, Sita Nursanti sebagai Hapsah Wiraredja, Chelsea Islan sebagai Sri Ajati, Tara Basro sebagai Sumirat dan Marsha Timothy sebagai Ida. Selain itu, Agus Noor dibantu oleh rekan-rekannya seperti Iskandar Loedin (Pimpinan Artistik), Artha (Penata Multimedia), Ricky Lionardi (Penata Musik), White Shoes and The Couples Company (Pengisi Lagu), Retno Damayanti (Penata Kostum), Fakhrudin (Penata Rias), Ritchie Ned Hansel (Desain Grafis) dan Tompi (Fotografer).

Agus Noor mengungkapkan, ‘Perempuan Perempuan Chairil’ berkisah mengenai hubungan cinta Chairil Anwar dengan beberapa perempuan yakni; Ida, Sri Ajati, Mirat dan Hapsah (yang kemudian menikah dengan Chairil). Empat perempuan ini boleh dibilang bisa mewakili pergulatan cinta dan hidup Chairil. Ida adalah gambaran perempuan yang terpelajar, intelektual dan modern pada jamannya. Dipuja dan dikagumi Chairil sebagai lawan berdebat dan berdiskusi yang cakap. Percintaan yang penuh kecerdasan, tapi Ida sendiri menganggap Chairil tak punya masa depan.

Sri Ajati disebut dalam sajak Chairil yang sangat romantik: Senja di Pelabuhan Kecil. Ajati perempuan yang cantik dan berwajah melankolis. Kecantikan Sri Ajati pula yang membuat pelukis besar Basoeki Abdullah melukis sosoknya. Ajati adalah gambaran cinta yang penuh harapan dan indah, cinta yang penuh pemujaan dan kekaguman. Tetapi ia sendiri tak pernah tahu Chairil memuja dan mencintainya.

Saat-saat Chairil bertemu Mirat, inilah cinta penuh gelora pemberontakan Chairil Anwar, cinta yang menjadi tenaga yang menginspirasi sajak-sajaknya yang bergelora. Cinta yang membuat Chairil menjadi produktif menulis sajak. Tapi kemudian Mirat menikah dengan seorang dokter tentara. Mirat mencintai Chairil, tetapi ayahnya tak menyetujuinya. Disinilah tragisme dan kemurungan Chairil kemudian banyak muncil dalam sajak-sajaknya.

Diujung hidup, akhirnya Chairil pun memilih bersikap realistis dalam hidupnya dan ia memilih menikah dengan Hapsah, seorang pegawai yang sudah punya gaji dan penghasilan tetap. Semangat pemberontakan Chairil yang membuat goyah kehidupan rumah tangganya. Tapi di dekat ajalnya, ketika mulai sakit-sakitan, Chairil seakan menyadari cintanya pada Hapsah juga rasa hormatnya pada perempuan yang diperistrinya. Chairil seperti menemukan kesadaran religius dalam hubungan cintanya dengan Hapsah yaitu seorang perempuan rumahan yang bersahaja yang sosoknya biasa-biasa saja. Pada Hapsah cinta Chairil menemukan rumahnya, menemukan kehangatannya.|Edo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*