G-Pro Terus Merawat Tembang Kenangan Melintasi Zaman!

IMG_20180907_220943-800x564-600x423

UrbannewsID Musik | Berbicara musik dengan segala macam pemaknaannya, harus diakui bahwa dekade 70-80’an menjadi era paling berkilau dalam sejarah industri musik di belahan dunia manapun. Bukan hanya sekedar karakter ragam musiknya, tapi pelantun baik itu solois maupun grup, serta pula lagunya yang punya rentang waktu panjang (easy listening), dan Melintasi Masa.

Kalau kita tengok romantisme populer (love-song) dari era tahun 70-80’an, seabreg yang bisa kita kategorikan mulai dari pop-R&B berikut soul yang terkadang terdengar ngebeat, woo-doop atau menjurus gospel. Ada pula yang kental dengan nuasa rock, rhythm & blues, folk ataupun bernafas country. Sebut saja; After the love has gone – EW&F, Aubrey – Bread, You’re My Everything – Santa Esmeralda.

Bisa juga, We’re In This Love Together – Al Al Jarreau. Just The Way U Are – Billy Joel, I don’t wanna talk about it – Rod Stewart, Lost in Love – Air Supply, Still – Commodores, House for Sale – Lucifer, Antonios Song – Micahael Franks, Loving You – Minnie Riperton, Oneday In Your Life – M Jackson. Buat sebagian orang, terutama generasi flower- lagu-lagu tersebut semacam icon- nostalgia.

Dan, untuk kali kedua saya di ajak memutar kembali memori tembang kenangan yang tidak lekang oleh zaman, bersama grup musik ‘G-Pro (Granada Project), Kamis (6/9) malam, di Melody Music & Lounge Grand Kemang Hotel, Jakarta. Kali ini, formasi G-Pro lebih komplit dan ciamik dengan menghadirkan brass section yang terdiri dari; Indro (trompet), Narso (trombone), dan Syaiful (flugelhorn/vokal).

Bagaimana tidak, Trio Brass Instruments yang tidak muda lagi tapi sarat pengalaman ini, mencoba mengintimkan kembali dengan lagu-lagu keren berjiwa funk dan soul dari Tower Of Power, Mandrill, Kool & the Gang, Earth Wind & Fire, Blood Sweat & Tears, James Brown serta macam lagu di era masa kejayaannya. Bahkan menurut Syaiful, mereka juga kerap membawakan dan menyanyikan lagu-lagu reggae Bob Marley.

Sebagai grup musik, G-Pro mencoba meramu musikalitas lintas batas yang di miliki para personelnya. Mereka hafal lagu sampai jenis atau karakter musik yang dimainkan para legenda musik dunia. Tidak aneh, jika Nadjib Oesman (Keyboard), Harry Minggoes (Bass), Maxie Pandelaki (Keyboard), Masri (Gitar), Tommy (Drum), mampu memainkannya

Belum lagi, ditambah para frontliner (penyanyi) band yang bermarkas di Jl. Bumi, kawasan Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini, masing-masing memiliki kemampuan bernyanyi dengan karakter vokal yang berbeda. Seperti Amiroez, selain dikenal sebagai penyanyi solo, pernah gabung dengan Elpamas, dan juga menjadi guru vokal, karakternya lebih rock. Nana cenderung kuat di rhythm & blues. Sedangkan, Erik lebih ke pop rock.

Band paruh waktu yang satu ini, karena personelnya juga memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Soal profesionalitas jangan ditanya. Mereka adalah orang-orang yang hidup tidak bisa lepas dari musik, perjalanan karirnya di panggung hiburan memiliki catatan tersendiri. G-Pro dibangun atas kesadaran dan kecintaan mereka terhadap musik yang tidak pernah berhenti. Mereka mengisi ruang-ruang kosong (event) yang tidak disentuh anak muda zaman now, untuk merawat, menjaga dan terus mengumandangkan karya lagu abadi sepanjang masa.|Edo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*