Film Lima, Angkat Nilai Pancasila Dalam Satu Tarikan Nafas!

IMG_20180524_211714-800x453-600x340

UrbannewsID Film | Fara, Aryo dan Adi baru saja kehilangan ibu mereka, Maryam. Tak cuma ketiga anaknya, Ijah, sang asisten rumah tangga juga kehilangan Maryam. Persoalan muncul, tatkala Maryam ingin dimakamkan memicu perdebatan di antara ketiga anaknya. Maryam adalah seorang muslim, sementara dari ketiga anak yang muslim cuma Fara. Namun akhirnya segala sesuatu terselesaikan dengan damai.

Masalah lalu berkembang ke anak-anak Maryam setelah ditinggalkan. Adi yang kerap di-bully suatu ketika harus menyaksikan peristiwa yang tidak berperikemanusiaan. Adi berusaha membantu semampunya, walaupun untuk itu ia harus berhadapan dengan Dega, teman sekolah Adi yang kerap mem-bully Adi.

Sementara Fara menghadapi masalahnya sendiri di pekerjaannya sebagai Pelatih Renang. Menentukan atlit yang harus dikirim ke Pelatnas, dengan tidak memasukkan unsur ras ke dalam penilaian. Ia menghadapi tantangan dari pemilik klub. Padahal para muridnya yang nota bene adalah remaja, tak pemah mempersoalkan wama kulit mereka.

Kemudian Aryo, anak kedua dan lelaki tertua di keluarganya, sepeninggal Maryam, ia harus menjadi pemimpin ketika masuk ke wilayah persoalan warisan yang ditinggalkan Maryam. Dan, Ijah pun memiliki masalahnya sendiri. Ijah terpaksa pulang kampung untuk menyelamatkan keluarganya, dimana kedua anaknya diadili dengan sangkaan mencuri cacao [buah coklat]. Ijah menuntut keadilan yang seringkali tak mampir ke orang kecil seperti dia.

Kisah diatas adalah sebuah potret yang menggambarkan tali-temali setiap peristiwa yang dialami keluarga Maryam, dalam satu tarikan nafas esensi Lima Sila yang terkandung dalam Pancasila, yakni bicara tentang Tuhan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, dan Keadilan. Cerita ini digambarkan dengan baik oleh Titien Wattimena dan Sinar Ayu Massie sebagai penulis cerita.

Bukan cuma itu, proses penggarapan film ini pun melibatkan ‘lima’ sutradara muda yaitu Shalahuddin Siregar, Tika Framesti, Harvan Agustriansyah, Adriyanto Dewo, dan Lola Amaria sendiri, selain ia juga bertindak sebagai produser. ‘Film Lima ini bukan film pendek yang disatupadukan menjadi sebuah omnibus, tapi film yang mempunyai keterkaitan satu sama lainnya,’ ujar Lola Amaria, menegaskan.

Film Lima yang akan tayang pass tanggal 31 Mei 2018 mendatang, di layar bioskop Indonesia. Sederet bintang yang bermain yakni Prisia Nasution (Fara), Yoga Pratama (Aryo), Baskara Mahendra (Adi), Tri Budiman (Ibu Maryam), Dewi Pakis (Bi Ijah), Ken Zuraeda (Tante Ita), Aji Santosa (Agus), Eliza (Noni), dan banyak lagi. Cukup apik memerankan karakternya masing-masing.

‘Dalam film ini keluarga adalah benteng, dimana tempat generasi muda tumbuh. Dan, kami ingin menumbuhkan kesadaran serta semangat akan nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme dan kebhinnekaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi generasi muda. Dan, Pancasila menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan,” pungkas Lola.

Untuk memahami pesan moral yang terkandung dalam film Lima, apalagi dikaitkan dengan nilai-nilai luhur lima sendi utama Pancasila yang tercantum pada paragraf ke-4 Preambule (Pembukaan) UUD 1945. Nampaknya, butuh perenungan beberapa saat untuk memamahi kaitan yang tergambarkan dalam setiap adegan atau peristiwa yang tersurat secara visual. Karena masing-masing sutradara hanya menjalankan tugasnya memotret peristiwa tanpa tanda-tanda.|Edo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*