“Dimensi Alternatif”, Album Kedua Neurotic Paling Imajiner!

image

Jakarta, UrbannewsID.com | Ketika berada di era digital, dimana semua hal bisa dipantau dan diketahui secara real time. Sayangnya, tidak semua musisi punya kemampuan memadai untuk memahami bagaimana industri bergerak dinamis dan sangat cepat. Bahkan cenderung mereka menyikapinya adem ayem atau seperti ‘siput’ tenang-tenang saja, seolah semua berjalan pada relnya. Jika kondisi ini yang terjadi, maka tidak tertutup kemungkinan model musisi seperti ini akan berjalan ditempat dan menunggu ajal ditinggal para penggemarnya.

Sementara, musisi yang punya sikap lebih jelas meresponnya dan atau peka zaman terhadap industri terbarukan, akan menjadi pemenang. Bíasanya musisi yang memiliki sikap visioner, akan terus berupaya mencari bentuk atau mengukuhkan karakternya. Melakukan eksplorasi dan inovasi konsep musikalnya, maupun membangun jaringan manajemen dengan memanfaatkan teknologi digital dan industrinya sebagai kekuatan untuk memperkenalkan karya yang di hasilkan serta mengukuhkan band brand tetap berada di hati penggemar.

image

Perubahan sikap dan perilaku sebagian besar masyarakat di era digital inilah, direspon dan disikapi dengan baik oleh Jonathan “Jones” Mono dalam kemasan album keduanya bertajuk “Dimensi Alternatif”, lewat band brand yang dibangunnya Neurotic. Untuk memproduseri album keduanya ini, Mono menggandeng musisi kakak-beradik, Petra dan Ben Sihombing. Keterlibatan Petra dan Ben bukan sebatas produser, tapi juga terlibat aktif ikut berkontribusi didalamnya seperti Ben sendiri menyumbangkan vokalnya di nomor “Asmara Membara”.

Dalam album Dimensi Alternatif, Neurotic juga melakukan beberapa kolaborasi diantaranya pada lagu “Masa Depan” menggandeng grup elektronik asal Bandung, Rock N Roll Mafia, dan juga pemain saksofon Tommy Pratomo untuk lagu “Misteri Ilusi” dengan produser tamu Randy M.P. Sebelumnya di pertengahan tahun, Neurotic sudah memperkenalkan lagu “Gairah Sia-Sia” sebagai single teaser yang bercokol di album keduanya ini. Begitu juga, lagu “Halusinasi” yang liriknya terinspirasi dari lagu “Lucy in The Sky With Diamonds karya The Beatles.

Maka tidak heran, musik Neurotic terpengaruh oleh berbagai macam genre seperti rock, pop, electronic music, dan synth pop. Dan, bahkan soundnya terdengar seperti era ’80 walau kemasannya lebih mengikuti tren sekarang. Jika disimak lebih dalam pada lagu Halusinasi, nampaknya Mono sebagai penyanyi sekaligus penulis lagu mengadopsi sound-sound dari instrumen musik lawas untuk diangkat kembali. “Kita tidak memainkan instrumen aslinya, karena barangnya langka dan susah dicari. Tapi, kita memanfaatkan atau memfungsionalkan plugin-plugin fl studio yang sangat banyak versinya.” pungkas Mono, saat ditemui di Kawasan Kemang, Rabu (6/9) sore.

Formasi Neurotic di album Dimensi Alternatif diperkuat oleh Jones (vokal/multi-instrumentalis), Yosaviano “YSVN” Santoso (multi-instrumentalis), Rizky “Greybox” Argadipraja (multi-instrumentalis), Dhani “The Unreal” Syah (keyboard/synthesizer), Ramandha “Uel” Satya (drum/samplers), dan Karel William (drum/cowbell/vokal).
Album Dimensi Alternatif konsepnya lebih imajinatif ini, sudah dapat didengarkan lewat beberapa layanan musik digital semacam Apple Music dan Spotify. Format fisiknya didistribusikan oleh label rekaman independen Demajors.

Sekedar catatan! Sosok Jonathan “Jones” Mono di panggung musik bukanlah musisi kemaren sore. Sebelum mendirikan Neurotic pada 2012, yang diperkuat oleh beberapa musisi seperti Said Satriyo dan Adityar Andra (gitaris), Byanos (bass), dan drummer Eno Gitara. Satu tahun berselang Neurotic melepas album penuh perdana, Weird, dengan melibatkan Widi Puradiredja (Maliq & D”Essentials) dan Hendra Jaya Putera (Rock N Roll Mafia) sebagai produsernya. Mono sudah lebih dulu dikenal sebagai pemain bass grup band Alexa, dan bahkan dipenghujung tahun 2011, sempat merekam lagu-lagu yang ditulisnya menjadi sebuah mini album berjudul “A Very Long Weekend”.|Edo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*