Catatan Ringan Dari Dialog Interaktif “Televisi Indonesia Menjangkau Peringkat dan Manfaat”

image

Jakarta, UrbannewsID. | Acara dialog interaktif yang digagas Forum Wartawan Hiburan atau disingkat Forwan, Rabu lalu (31/8) siang, bertempat Gedung Film yang berada di kawasan Gatot Subroto, Jakarta, sebenarnya cukup menarik dari sisi tema yang diangkat, yakni “Televisi Indonesia Menjangkau Peringkat dan Manfaat”. Tapi, akan jauh lebih menarik lagi jika kata “dan” diganti kata “atau”, hingga kalimatnya menjadi “Televisi Indonesia Menjangkau Peringkat atau Manfaat”. Sehingga tema dialog lebih bunyi, ada sebuah pertanyaan untuk dikupas tuntas, dan fokus pada sasaran apakah televisi Indonesia hanya mengejar peringkat (rating) atau hadir memberi manfaat.

Dialog interaktif yang dibuka oleh praktisi pertelevisian Alex Kumara, dan dihadiri pula para pelaku pertelevisian yakni Wishnutama (Dirut Net.TV), Endah Hari Utari (Direktur Program dan Peoduksi MNCTV), serta Sudarmedi (Kementerian Komunikasi dan Indormatika), Melladine Lubis (AC Nielsen), dan Ningsih Sumitro dari Roy Morgan Research. Maman Suherman yang memandu jalannya diskusi interaktif, sudah membuka dengan sebuah pertanyaan yang menggelitik,”Televisi bukan sekedar institusi hiburan. Jadi bukan hanya peringkat dan manfaat, tapi juga berharkat dan bermartabat. Apakah, kita masih yakin dan optimis masa depan televisi”.

Sayang, waktu diskusi terlalu singkat, tidak lebih dari satu jam. Sebenarnya masih banyak yang bisa digali dari para pemangku kebijakan stasiun televisi, dan juga lainnya untuk menjadi bahan industri pertelevisian kedepannya. Bagaimana tidak, menurut data AC Nielsen yang disampaikan Melladine Lubis, kedigjayaan televisi mampu meraup iklan kurang lebih 24,1 trilyun gross. Hal ini, disebabkan televisi masih dianggap sebagai medium strategis dalam beriklan karena mempunyai jangkauan yang tingi. Jadi tidak mungkin televisi ditinggalkan para pengiklan, dan bahkan optmisme kenaikan setiap tahunnya.

Seperti yang disampaikan Ningsih Sumitro dari Roy Morgan Research, hanya memfokuskan pada penonton untuk melihat trend dan kualitas acara. Juga pemasang iklan yang pas dengan program acaranya. Kualitas seperti apa yang diinginkan penonton? Lebih kuantitas penonton. Maka tidak heran, jika program-program tayangannya pun akan mengacu pada rating sebagai acuan. Lantas ada pertanyaan, apakah salah jika stasiun televisi menguber rating? Jawaban klasiknya, ya tentu tidak. Karena stasiun televisi hidupnya ya dari iklan, dan klop dengan tema televisi Indonesia baru sebatas menjangkau peringkat.

Nah!, bagaimana televisi Indonesia bermanfaat? Saya mencoba mengutip pidato Newton Minow, seorang anggota FCC (Komisi Komunikasi Federal) di hadapan para anggota Asosiasi Lembaga Penyiaran AS, tentang televisi yang ia juluki sebagai “sebuah ladang liar yang luas’’ dalam sebuah artikel yang ditulis Ade Armando dalam blog-nya. Pidato yang disampaikan Newton Minow beberapa puluh tahun lalu ini sangat menarik. Ia mengeluhkan betapa frekuensi siaran milik publik yang sangat berharga itu telah digunakan oleh para pengusaha televisi untuk menyebarkan berbagai kesia-siaan.

Saat itu, Minow sebenarnya lebih sekedar mengingatkan. Maksudnya, izin yang diberikan kepada stasiun televisi untuk menggunakan gelombang udara milik publik harus bertanggungjawab kepada berjuta masyarakat. Bila ingin tetap mempertahankan kepercayaan yang diberikan, harus menyediakan imbalan yang pantas pada publik, bukan hanya pada para pemegang saham perusahaan dan juga pengiklan. Sejatinya stasiun televisi bukan hanya bicara kuantitas, tapi juga bicara kualitas dalam program tayangannya. Televisi yang kini menjadi sebuah industri, harus bermanfaat bagi banyak orang. Bukan saja program tayangan berkualitas, tapi secara ekonomi membawa manfaat.

Beberapa tahun terakhir ini, stasiun televisi di Indonesia nampaknya bergerak dari hulu hingga ke hilir. Semuanya serba ditangani sendiri, mulai dari menyiarkan sampai ke urusan konten program tayangan. Hal ini bisa dilihat, hampir semua stasiun televisi memiliki in house production sendiri. Tidak ada lagi rumah produksi dari luar atau kelompok penyedia dan penyuplai konten program, kalau pun ada bisa dihitung dengan jari. Jangan salahkan, jika ada anggapan pertelevisian di Indonesia tumpul kreatifitas dan cenderung seragam. Bayangkan, stasiun televisi harus memproduksi 300 program tayangan dalam satu minggu.

Pertelevisian di Indonesia seperti jalan ditempat, atau tidak berkembang secara industri yang berbasis ekonomi kreatif. Jika mau berkaca pada industri otomotif, dimana produsen dalam memproduksi sebuah kendaraan, masih membutuhkan rekan kerja para supplier untuk melengkapi beberapa elemen pelengkap yang dibutuhkan. Sebaiknya, stasiun televisi di Indonesia kembali membuka kran bagi para pelaku kreatif untuk bisa ikut berkontribusi. Ciptakan cluster-cluster, kelompok, rumah produksi atau pun apa bentuknya untuk urun rembuk menciptakan konten program kreatif yang sejalan dengan visi stasiun televisi itu sendiri. Saatnya, stasiun televisi menjadi inkubator anak-anak muda kreatif, sehingga ekonomi kreatif tumbuh dan berkembang.

Pada kesempatan di acara yang sama, dilemparkan pula sebuah wacana tentang Hari Televisi Nasional yang digagas Forwan. Jika, insan film dan juga musik yang sudah memiliki hari untuk dirayakan, kenapa tidak untuk insan pertelevisian. Sudarmedi dari Kemkominfo mengatakan, televisi dan juga radio sama-sama dalam kategori media penyiaran, maka tanggal 1 April ditetapkan menjadi Hari Penyiaran Nasional yang wacananya sudah bergulir sejak 10 tahun yang lalu. Hal tersebut tercantum dalam salah satu naskah Deklarasi Hari Penyiaran Nasional yang ditandatangani di Balaikota Surakarta, disebutkan bahwa pada tanggal 1 April 1933 telah didirikan lembaga penyiaran modern pertama milik bangsa Indonesia bernama Soloche Radio Vereeniging (SRV) di Solo.

Lagi-lagi sayang, dialog interaktif berjalan sangat singkat tidak lebih dari satu jam. Tidak ada perdebatan soal penting tidaknya hari televisi, kenapa harus hari penyiaran, kenapa harus digabung antara televisi dan radio, kapan tanggal yang tepat jika harus ditetapkan hari televisi. Pertanyaan-pertanyaan ini akan menarik dan perbincangan akan mengerucut pada satu titik, yakni sebuah kesepakatan bersama para pelaku dan insan pertelevisian menentukan hari perayaannya. Tapi, ya sudahlah! Ini sebuah langkah awal ide dan gagasan yang digulirkan oleh rekan-rekan Forum Wartawan Hiburan mengapresiasi dunia pertelevisian di Indonesia untuk memiliki hari bersejarahnya.

Tanpa mengurangi semangat dan perjuangan Forwan dalam berkontribusi di jagad hiburan tanah air. Sekedar sebuah catatan ringan, kedepannya format diskusi, dialog interaktif dan sebagainya, sebaiknya terkonsep dengan baik terutama dari sisi waktu dan flow acaranya. Sayang, nara sumber yang mumpuni tidak digali pemikirannya dan pendapatnya. Sudah saatnya juga bagi Forwan, menggelar sebuah acara khusus untuk para anggotanya yang sebagian besar adalah para wartawan hiburan yang berbasis kompetensi dan edukasi yang pas dan sesuai dengan profesinya. Sebaiknya juga, sudah saatnya Forwan memproteksi anggotanya dengan asuransi, dari pada sekedar menggelar kegiatan sosial menyantuni kaum duafa. Sesekali boleh-boleh saja asal jangan layaknya dinas sosial. Bravo Forwan!|Edo (Foto Istimewa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*