Buku “Kisah Sukses Tukang Foto Menjadi Boss Advertising”, Menjadi Kado Istimewa 35 Tahun Dwi Sapta Group

image

Jakarta, UrbannesID. | Di Indonesia banyak orang sukses yang memulai kariernya dari bawah. Mereka berjuang keras untuk mendapatkan apa yang mereka impikan. Tak ada kata menyerah sebelum melangkah. Dan, tak ada alasan untuk melewati jalan pintas dan instan untuk meraih sebuah kesuksesan. Di antara orang-orang sukses ini, ada Aloysius Adji Watono, bos sebuah advertising besar dan ternama di tanah air.

Pria paruh baya asal Kudus, Jawa Tengah ini, tak pernah terbayang di benaknya bahwa usaha yang dirintisnya sejak 1981 berkembang pesat. Dari sebuah studio foto di bilangan Rawangun, Jakarta Timur bernomor 27ini, PT Dwi Sapta Pratama yang didirikannya telah menjelma menjadi perusahaan advertising besar. Bisnisnya pun berkembang hingga menjadi 11 perusahaan dengan lebih 450 karyawan.

Ratusan produk telah ditanganinya. Maka tak heran bila Dwi Sapta masuk dalam kelompok Top 5 Agency berdasarkan billing commitment di stasiun TV dan media cetak. Bahkan di sejumlah event creative award, karya-karya Dwi Sapta meraih beragam penghargaan bergengsi seperti dari Adoi; MNC Group untuk kategori 1st TOP Sponsorhip Agency dan 2nd Best Supporting Agency; Pinastika, The Most Impactful Event, serta Agency of The Year.

Perjuangan dan kegigihannya lah yang bisa membawanya menjadi orang terkenal dan dikenal banyak orang. Kerja keras, kerja baik, kerja cerdas dan kerja dengan sepenuh hati yang diusung Adji, membawa Dwi Sapta menjadi sebuah group company yang makin berkibar bersama lini bisnis lainnya, seperti public relations, direct marketing, personal selling, sales promotion, interactive marketing, brand activation, dan research company.

Tepat pada hari ini, Jumat, 27 Mei 2016, Dwi Sapta Group berusia 35 tahun. Ada sebuah kado istimewa bagi sang pemiliknya yang digelar di Ruang Nusantara, Hotel Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yakni sebuah buku biografi yang menceritakan perjuangannya, berjudul “Kisah Sukses TUKANG FOTO menjadi BOSS ADVERTISING”. “Ini semua seperti air mengalir, dari tukang foto, kemudian punya satu perusahaan lalu berkembang menjadi 11 perusahaan,” ucap Adji, penuh haru.

Buku autobiografi Adji Watono setebal 305 halaman yang terbagi 18 Bab, berisi kisah pribadi, pengalaman, dan falsafah hidup yang mewarnai perjuangan pria kelahiran Kudus dari Zero to Hero ini, ditulis oleh Agung Adiprasetyo, CEO Kompas Gramedia 2016-2015, sabahabatnya yang juga tidak kalah hebat. Dikemas bak sebuah novel ini telah berhasil memikat pembaca dengan gaya tutur penulisnya yang mengalir lancar, lugas dan mudah dicerna.

“Saya bersedia menulis biografi Adji Watono yang menggambarkan upayanya selama 35 tahun membangun Dwi Sapta. Saya selalu suka mengagumi orang-orang yang tabah, ulet, dan kreatif membangun sesuatu dari nol hingga sukses, juga terlebih lagi karena harapan bahwa mudah-mudahan kiat dan pandangan Adji Watono bisa menjadi inspirasi dan bahan belajar yang baik buat siapa pun yang ingin menjadi wirausahawan sukses,” jelas Agung Adiprasetyo.

Diakui Agung Adiprasetyo, roh dan filosofi Dwi Sapta terbangun karena kultur dan warna sebuah organisasi dibentuk oleh pandangan dan sikap founder atau pimpinan tertingginya. “Walaupun ada banyak cerita dari petarung-petarung hebat yang berhasil melewati masa-masa sulitnya, tetap saja cerita perjuangan Dwi Sapta dari kertas polos hingga masuk dalam daftar biro iklan Indonesia terkemuka, sanggup bersaing dengan jagoan lokal, layak disimak,” terang Agung, menambahkan.

CEO & Founder Dwi Sapta Group, Adji Watono mengatakan bahwa sukses Dwi Sapta sepanjang 35 tahun ini tak lepas dari filosofi “Client Success is Our Success”. “Filosofiini dijalani penuh dengan perjuangan, pengorbanan, dan air mata. Saat ini Dwi Sapta sudah besar dan sukses berkat kerjasama yang baik dengan para klien. Terima kasih kepada seluruh klien Dwi Sapta Group dan business partner,” tegas Adji.

image

Layaknya sebuah perjalanan, ada titik awal dimana perjalanan itu dimulai. Namun, selalu ada titik akhirnya walau belum diketahui pasti. Tetapi ada masa-masa dalam garis (kumpulan titik) kehidupan yang dicetak tebal oleh anak manusia, dianggap sebagai penanda titik balik kehidupannya layak untuk dibagi. Oleh karena itu, sebagai founder, seseorang harus tahu benar kapan saatnya dia bergeser posisi menjadi “tokoh” yang rela menyerahkan kewenangannya dan pekerjaannya kepada generasi yang lebih muda.

Adji menyadari betul hal itu. Ibarat orangtua yang mengajarkan anak mengendarai sepeda, dia akan memegang sadel sepeda dari belakang. Sesekali melepaskan sepedanya. Suatu saat, tanpa disadari anak itu, dia sudah sanggup mengayuh dan mengendarai sepeda, tanpa harus dipegang lagi sadelnya oleh orang tuanya. Inilah yang dilakukan Adji menyerahkan tongkat estafet Dwi Sapta kepada Maya Watono sang anak. Di jaman melanial dan serba digital, Dwi Sapta memang harus dikendalikan dan diisi oleh anak-anak muda kreatif.

Maya Watono yang kini didampuk menjadi Managing Director Dwi Sapta Group mengutarakan, hal ini merupakan langkah luar biasa dan menjadi kebanggaan tersendiri untuk perjalanan kami. Kami takkan pernah tahu apa yang dilakukan sekarang dapat berguna di kemudian hari. Tapi, asah bakat dari dini dan berkaca dari kerja keras, semangat serta tujuan jauh kedepan dari sosok Adji Watono sebagai pemimpin sekaligus orang tua kami, menjadi inspirasi bagi kami untuk menjalankan roda bisnis Dwi Sapta kedepannya.

Mengutip tulisan Agung Adiprasetyo dalam buku Adji Watono, ayah Adji yang seorang pedagang mengajarkan, untuk survive, orang harus punya insting dan naluri yang setiap saat harus diasah. Ayah Adji percaya, orang yang berhasil bukan karena dikasih modal, bukan karena dikasih uang, melainkan karena diberi jalan. Salah satu jalan yang menjadi modal utama seorang pedagang adalah teman dan kepercayaan.Orang juga harus punya passion dan semangat. Kalau orang suka mengerjakan sesuatu, dia juga akan membuat orang lain suka mengerjakan sesuatu. Mengerjakan sesuatu yang disukai akan menjadi ringan, bukan beban.|Edo (Foto Istimewa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*