10 Tahun Jazz Gunung, Saatnya Berlari Cepat!

IMG_20180628_234825-800x597-600x448

UrbannewsID Musik | Jika kita analogikan seperti seorang Anak, usia 10 tahun pegelaran Jazz Gunung, semakin mendekati usia puber atau usia remaja. Mungkin ada beberapa yang termaknai, atau merasakan bahwa anak tidak lagi menjadi anak kecilnya yang lucu, akan tetapi dia sudah mulai berubah menjadi pribadinya sendiri.

10 tahun konsisten berjalan tanpa jeda, adalah sebuah pembuktian bahwa jazz gunung telah menemukan karakternya sendiri sebagai pembeda dari festival musik kebanyakan. Kalau menurut Djaduk Ferianto, salah seorang penggagas jazz gunung, menikmati indahnya semilir jazz dalam keberagaman dan merdunya kawasan pegunungan, adalah investasi kultural.

Ketika pertunjukan musik terpaku pada ruang yang sempit, tersekat pada dinding pembatas, tidak ada lagi nafas untuk bercumbu dalam diam. Tidak ada lagi, nada indah yang terbawa angin merasuk kedalam sendi-sendi hati. Jazz Gunung merubah pola mengkonsumsi musik yang berenerji, lewat perpaduan kesejukan setta dahsyatnya pemandangan alam pegununungan yang beratapkan langit, berdinding cemara dan gemerlap bintang

Saya bersyukur masih ada orang-orang “gila” seperti Sigit Pramono, mantan bankir penggemar fotografi dan mendengarkan jazz, serta dua bersaudara seniman asal Yogyakarta, Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto, yang berani dan konsisten untuk mementaskan musik jazz bertaraf international bernuansa etnik yang diadakan di atas ketinggian 2000 meter dari permukaan laut.

Jazz Gunung yang akan digelar mulai tanggal 27, 28 dan 29 Juli 2018 di panggung amfiteater terbuka yang terletak di Jiwa Jawa Resort Bromo, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur. Menjadi ruang autentik bagi musisi-musisi Indonesia ditengah industri musik asyik nggak asyik, karena sulitnya jual cd fisik, gempuran musisi mancanegara merebut lahan panggung. Tapi, paling tidak bisa menambah deretan manggung di curriculum vitae-nya.

10 tahun kini Jazz Gunung siap digelar. Sebuah usia yang cukup matang untuk berlari cepat, menembus perubahan. Diperlukan cara-cara baru menyiasati agar gemanya mencapai lingkup masyarakat lebih luas. Jauh ke pelosok, ke pedalaman, bahkan ke seluruh dunia. Apalagi, di dunia digital semuanya bisa digerakkan dari satu genggaman saja.

Tinggal bagaimana penyelenggara bisa melakukan inovasi dan menyatu dengan dunia digital itu sendiri. Kalau saat ini, kolaborasi musikal para musisi yang beda tempat dan jarak bisa dilakukan secara virtual. Maka, pertunjukan jazz gunung bisa dinikmati dan disaksikan oleh siapapun lewat live streaming [kalau belum ya! red:].|Edo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*